Pendidikan Terbaik Untuk Anak #2



Pendidikan terbaik bagi anak dari orang tua adalah dengan kelembutan. Mengapa?

Membuktikan Cinta Ibu
Anak tidak bisa merasakan dan menikmati cinta dan kasih sayang orang tua, jika tidak dibuktikan. Bagaimana membukfikannya ? 

“..... satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih, walau dalam keadaan marah sekalipun”

Keterlaluan!" Kata ibu suatu ketika "Disuruh mengembalikan sepatu ke tempatnya, eh malah berani mengata-ngataiku".
Di waktu lain, Bu Didin bercerita tentang Andri yang tak pemah mau merapikan kasur, tak juga membereskan kamamya sendiri. Pokoknya hampir seluruh permintaan ibunya tak dilakukan, menyebabkan terjadinya pertengkaran demi pertengkaran yang biasanya terjadi saban hari. 

Saat itu Andri baru saja selesai bermain mobil-mobilan dengan dua temannya. Diapun dengan santai melangkah hendak pergi meninggalkan dua belas mobil-mobilannya berserakan di ruang tengah, ibunya spontan menegur, "Andri, bereskan dulu mainanmu."  "Nanti saja Bu!" kata Andri santai saja. 
"Hei! Ayo kembali. Rapikan dulu ruang tengah! Dasar bandel. Bisanya membantah saja," kata ibu. Nada suaranya meninggi.  "Nanti Bu, aku ditunggu teman-teman di luar itu lo," Andri menjawab jengkel. 
"Berapa puluh kali harus lbu katakan, kau harus membereskan mainanmu sendiri. Kau ini memang anak malas," sergah ibu. 
Didamprat ibunya seperti itu tak membuat Andri surut, la justru mengeluarkan maki-makian dari mulutnya sambil tetap melenggang santai. 

Sulit dibayangkan, ada anak yang begitu berani terhadap ibunya. Bahkan dari sorot mata si bocah cilik itu tampak sekali terbersit kebencian dan kemarahan yang luar biasa. Adakah si ibu membenci anak satu-satunya itu? Besar kemungkinan, tidak. Yang telah teriadi hanyalah kesalahpahaman antara ibu dan anak.

Bu Didin mencintai Andi, itu dikatakannya ratusan kali pada siapapun. Akan tetapi sayang, temyata nyonya muda ini salah dalam mengkomunikasikan rasa sayangnya. Gara-gara sikapnya yang emosional dan perkataannya yang kasar, anak tak menangkap adanya suasana kasih sayang. 

Mengapa Harus Lembut?
Rasulullah mengibaratkan anak seperti kertas putih bersih, tergantung pada orang tuanya, mau ditulis dengan tinta wama merah, hijau, atau jingga. Orang tua terlalu cepat memvonis nakal, malas, bandel atau bahkan durhaka terhadap anak-anaknya sendiri, padahal merekalah yang paling dominan membentuk karakter dan kepribadiannya.

Kalaupun itu benar, bukankah para, orang tua yang lebih bertanggung jawab atas sifat- sifat buruk itu?  Realitas ini perlu diketahui, sebab sering terjadi, orang tua yang sangat mencintai anaknya harus kecewa melihat kenyataan si anak menjadi bengal dan pembantah. Orang tua merasa telah mengorbankan apa saja demi anaknya, tapi justru mereka menjadi pemberontak.

Para orang tua banyak yang salah memilih metode pendidikan. Sebagian orang tua menganggap bahwa untuk meluruskan sikap anak yang kurang baik harus ditempuh cara-cara yang keras, seperti menghukum, berkatakata keras dan kasar. Cara seperti itu tak mungkin berhasil, malah sebaliknya dapat menimbulkan dendam pada diri anak. 

Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan secara khusus kepada Nabi Muhamma'd saw agar meninggalkan cara-cara kasar, sebab kekasaran bukan mendekatkan ummat kepadanya, tapi justru akan menjauhkannya.

Allah berfirman:  Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan. (QS. Ali Imraan: 159) 

Meskipun ayat ini ditujukan kepada Nabi dalam membina ummatnya, tapi pembinaan itu bersifat universal. Ayat di atas juga berlaku bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya. jika mereka ingin agar anaknya lebih mendekat, maka jalan yang mestinya ditempuh adalah mendidik dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar. 

"Sifat dasar manusia akan mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati kepadanya. Hal ini menciptakan perasaan wajib untuk membalas kebaikan orang tersebut.”

Berbuat lembut kepada anak, sama sekali bukan berarti harus menuruti semua permintaan anak. Orang tua terlebih dulu memahami pendapat dan keinginan anak yang sering konyol serta tidak masuk akal, kemudian dengan penuh kasih sayang mengarahkannya untuk mengerti batas antara boleh dan tidak. 

Perkataan kasar dan pemberian hukuman, adalah hal yang tidak diingini semua anak, walaupun menurut orang tua semua itu demi kebaikan anak semata. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidak senangan orang tua kepadanya.

Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih, walau dalam keadaan marah sekalipun

Menawarkan Kebaikan
 "Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi) yang lebih baik bila di beri senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang," tulis Dr. Bursteln dalam buku Dr Bursteln's Book on Children.

Sidney D. Craig pun menegaskan pendapat itu dengan didukung bukti dan argumentasi yang kuat. Orang tua harus tetap menunjukkan kasih sayang walau di saat anak sedang melakukan kesalahan.
Justru itulah saat yang tepat untuk menunjukkan rasa cinta kasih.  "Sifat dasar manusia akan mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati kepadanya,"kata Sidney dalam Raising your Child, not by force by love. Hal ini menciptakan perasaan wajib untuk membalas kebaikan orang tersebut. 

Sungguh menarik untuk disadari bahwa 14 abad silam, Nabi Muhammad SAW sudah menerapkan teori itu kepada siapapun.
Beliau mengampuni kaum Quraisy saat Fathul Mekah. Padahal merekalah yang dulu menghina dan menyiksa kaum muslimin. Beliau justru mendoakan kebaikan bagi orang-orang Thaif yang menghujani beliau dengan cercaan serta lemparan batu. 
Beliau juga menjenguk dan mendoakan kesembuhan wanita kafir yang sakit padahal wanita itu sangat buruk perilakunya kepada Nabi. Tindakan beliau yang selalu mencerminkan kelembutan dan kasih sayang itulah yang memberi andil masuk Islamnya tokoh-tokoh penting kaum kafir.

"Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi) yang lebih baik bila di beri senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang,"

Pahami Alasan Anak
Perintah bersikap lembut juga berlaku bagi orang tua yang menginginkan anaknya patuh.

Perilaku inilah yang rupanya tidak dimiliki oleh Bu Didin. Wanita ini memang bertipe perfeksionis, ingin semuanya serba sempurna. Dia mengharapkan anaknya bisa patuh seketika. Sifatnya yang kaku dan tidak sabaran mengakibatkannya segera bereaksi dengan kata-kata kasar disertai ancaman ketika anaknya melakukan sedikit kesalahan.

“Tak usah menjelek-jelekkan anak, tak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka sendiripun sudah tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang, sambil tetap memberi senyuman”

Padahal kesalahan bagi anak-anak itu wajar, karena mereka masih dalam proses belaiar.  Perlu diketahui bahwa semua anak mempunyai harga diri sebagaimana orang dewasa. Mereka tidak ingin harga dirinya diinjak-injak, walaupun oleh orang tuanya sendiri. Mereka tetap ingin menjaga harga dirinya, walaupun harus dengan cara melawan.
Inilah hakekat manusia yang tidak hanya berlaku pada orang dewasa saja, tapi juga buat anak-anak. 

Anak-anak mempunyai dunia sendiri. Salah dan benar mestinya diukur dari dunia mereka dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kejiwaannya. Bisa jadi menurut orang tua tindakan anaknya merupakan kesalahan fatal, tapi menurut anak-anak, hal itu bukan kesalahan.

 Mereka mempunyai alasan sendiri, kenapa begitu. Sebab ia hendak membereskannya nanti sepulang dari bermain. Sedang sekarang ia harus bergegas agar tak tertinggal teman-temannya yang sedang menunggu.
Celakanya, niat yang menurutnya baik itu ternyata dinilai ibunya salah. Akibatnya ia harus menerima hukuman kehilangan uang saku. 

Bandingkan akibatnya, bila Bu Didin saat itu keluar menemui teman-teman Andri dan meminta dengan lembut untuk menunggu sebentar, kemudian digandengnya Andri ke ruang tengah sambil berkata,"Yuk ibu temani kamu membereskan mainan. Kamu kan biasanya menyukai rumah yang bersih dan rapi." 

Tak usah menjelek-jelekkan anak dengan tuduhan malas dan bandel, tak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka sendiripun sudah tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang, sambil tetap memberi senyuman.

Menahan Emosi?

Kekasaran kata-kata dan kebiasaan marah, bisa dikarenakan orang tua tidak mampu menahan emosi. Padahal ketika berada dalam kondisi jiwa yang stabil, tidak terlalu sulit untuk bisa bersabar dan berlemah lembut. Sayangnya, tugas dan kewajiban menangani tugas rumah tangga yang begitu berat, sebagai sebuah rutinitas yang membosankan, dan menghabiskan waktu lama dapat memperlemah kondisi kejiwaan ibu, sehingga menjadi emosional dan cepat marah.

“....para orang tua sebaiknya merubah karakter kasar yang merugikan, sebelum menularkannya kepada anak-anaknya...”

Dibandingkan berbagai jenis pekerjaan lain, profesi ibu rumah tangga memang memiliki resiko kebosanan tingkat tinggi. Karena ibu harus menempuh profesi tersebut selama 24 jam dalam sehari, di kantor yang juga rumahnya, hanya bisa berpindah-pindah dari kamar ke kamar semata.

Orang-orang yang ditemuinya pun tak berganti dari hari ke hari, selama bertahun-tahun !
Kondisi pekerjaan yang mengenaskan ini lebih diperparah lagi dengan ketidakpedulian suami serta masyarakat yang kerap melupakan , tidak mempedulikan kerja berat ibu atau isteri. Masyarakat masih menilai pekerjaan rumah tangga sebagai urusan domestik yang sepele dan rendah. 

Konflik antara suami istri ikut meramaikan suasana rumah, membuat keadaan menjadi lebih panas. Banyak kaum ibu yang tak memiliki penyaluran yang baik untuk meredam emosinya, sehingga menjadikan anak sebagai sasaran pelampiasan emosi. 

Ada pula ayah ibu yang berperilaku kasar karena watak dan karakter dasar yang membentuk kebiasaan hidupnya. Mereka yang dibesarkan dengan disiplin militer yang keras, misaInya, besar kemungkinan akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras.
Ada kecenderungan orang tua semacam itu akan berlaku keras dan kasar kepada anak-anaknya. 

Selain itu, karakter kasar bisa terbentuk oleh lingkungan, terpengaruh oleh adat budaya masyarakatnya yang memang kasar. Beberapa suku bangsa di Indonesia memiliki budaya hidup yang lebih keras dan kasar dibanding suku yang lain.

Penyebabnya bisa jadi karena tantangan hidup yang dihadapinya mengharuskan mereka berperilaku seperti itu.  Karakter dasar yang keras, kasar dan emosional tersebut bisa jadi akan merusak pola pendidikan anak. Itu sebabnya, terhadap dirinya sendiri, para orang tua sebaiknya bermuhasabah, melakukan instropeksi, dan mampu merubah karakter kasar yang merugikan tadi, sebelum menularkannya kepada anak-anaknya. 

Ajaran Islam telah memberikan beberapa patokan pergaulan hidup yang beradab, jika patokan tersebut dipenuhi, akan mampu mengalahkan pengaruh adat budaya yang negatif tadi.

Beberapa aturan telah diajarkan Islam, seperti larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, larangan bagi wanita untuk melengkingkan suara, anjuran untuk segera berwudhu jika marah, hingga larangan memanggil teman dengan gelar dan sebutan yang jelek.


Baca Juga:


---

3 TIPE ANAK, KENALI TIPENYA DAN RAIH SUKSES MENDIDIKNYA

3 tipe anak

Tiga Tipe Anak

Setiap anak berbeda dan unik. Ada yang sulit, ada pula yang mudah beradaptasi. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Pukul tujuh tepat, bel  berbunyi. Beberapa anak termasuk Zaki berteriak, "Horeee!"  Zaki-lah anak pertama yang memilih tempat di dekat pintu masuk kelas, tempat anak-anak berbaris sebelum masuk kelas. Beberapa anak berjalan mengikuti Zaki dan mengambil tempat dibelakangnya. 
"Saya yang memimpin Bu Guru!" teriak Zaki sambil mengacungkan telunjuk tanpa diminta, Bu Guru memperbolehkan, dan dengan gembira Zaki maju dan menghadap ke arah teman-temannya.
lbunya yang memandang dari kejauhan tertawa geli. Hanya dari kejauhan, karena Zaki memang tak mau ditunggui. "Malu Bu. Kata lbu Guru, anak yang berani sekolah sendiri berarti mujahid. Zaki kan kepingin jadi mujahid. Kata ibu kalau mujahid itu pemberani seperti Satria Baja Hitam." , begitu alasan si Zaki.  "Siaaap grak!"

Suara keras Zaki memimpin barisan, termasuk Azzam. Bocah ini sebentar-sebentar menoleh mencari ibunya yang berdiri di belakang barisan, takut ditinggal.

“Setiap anak berbeda dan unik. Ada yang sulit, ada pula yang mudah beradaptasi. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan”

Masih ada seorang anak yang tak mau ikut berbaris, masih menempel erat pada ibunya. Wajah Fira, anak itu, nampak sangat tegang. Ketika diajak berbaris oleh Bu Guru ia justru semakin erat mendekap ibunya. Terpaksa ibunya turut menyertainya, berdiri dalam barisan. 

Ketika akhirnya anak-anak masuk kelas dan Bu Guru mulai bicara, ibu Fira terpaksa ikut jadi murid karena anaknya sama sekali tak mau beringsut darinya. lbu Azzam cukup menunggu di luar kelas dekat jendela sehingga masih bisa terlihat kerudungnya oleh Azzam.
Pernah sekali waktu ia mencoba pindah tempat. Begitu kerudung hilang dari pandangan Azzam, bocah itu langsung lari keluar mencarinya. Akhirnya ibupun kembali duduk dekat jendela. 

Lain lagi dengan ibu Zaki. Sejak dari rumah Zaki sudah wanti-wanti,  "pokoknya ibu tidak usah nunggu Zaki. "Ketika ibunya mencoba mengintip dari jendela dan kebetulan terlihat oleh Zaki, si calon mujahid ini langsung keluar kelas marah pada ibunya.

Perilaku Zaki, Azzam, dan Fira sudah cukup mewakili gambaran karakter anak pada umumnya. Zaki menjadi model anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan suka mencoba sesuatu yang baru. Anak-anak seperti ini biasanya diistilahkan sebagai anak yang "mudah". 
Azzam tidak seberani Zaki. Untuk beradaptasi dengan lingkungan pun tidak segampang temannya itu. Model yang seperti ini disebut anak yang "perlu waktu pemanasan". Sebaliknya yang masih sangat takut seperti Fira diistilahkan anak yang "sulit".  

Anak yang Mudah
Anak-anak golongan ini biasanya penampilannya penuh keberanian dan terbuka. Tampil dan berbicara apa adanya. Mudah bergaul dengan orang-orang yang baru dikenalnya, lincah, serta banyak bicara.
Mereka sama sekali tidak canggung berada di lingkungan yang baru. Bahkan beberapa dari anak-anak ini tergolong sangat aktif  Secara sekilas orang tentu kagum. "Enak punya anak seperti Zaki,"  komentar ibu-ibu. "Tidak merepotkan," tambah ibu yang lain.
Memang tidak merepotkan, karena di rumah pun Zaki lebih banyak main keluar. Ada segudang teman-temannya yang biasa ia datangi rumahnya, satu persatu setiap hari. la pulang hanya untuk makan dan tidur saia. Hanya sesekali ia mengajak teman-temannya bermain di rumah. 
Tetapi ada kelemahan pula pada anak-anak golongan ini. Karena saking mudahnya beradaptasi, jadi terlalu sering berpindah tangan pengasuh. Ini buruk akibatnya bagi dirinya sendiri. Seminggu tinggal bersama nenek, baru pulang sebentar dijemput tantenya untuk dibawa selarna 7 hari pula. 

Setiap orang tak pernah punya pola asuh yang sama. Batasan, larangan, cara memerintah, cara membujuk hingga, nilai-nilai yang disampaikan dari ibu, tante dan nenek tidak akan pernah sama.
Bahkan ada kalanya bertolak belakang. Sernua itu hanya akan membuat anak bingung hingga pada akhirnya mereka jadi sulit diberi pengertian. 
Selain itu, karena sifat anak-anak ini yang suka mencoba hal yang baru, orang tua harus waspada terhadap barang-barang yang berbahaya.
Zaki sendiri pernah mencoba memasukkan jarinya ke dalam kipas angin yang sedang berputar di rumah temannya. Tentu saja luka yang ia bawa pulang. 

Anak yang Perlu Pemanasan
 Tidak terlalu berani, tidak pula penakut. Yang jelas ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Setelah tenggang waktu tersebut, mereka telah memperoleh kepercayaan dirinya kembali. la juga bisa menjadi begitu berani seperti teman-temannya yang "mudah". 

Dengan orang yang belum dikenal mereka hanya diam walaupun bukan berarti penakut. Tetapi setelah kenal mereka bisa saja segera akrab.
Anak-anak ini perlu dorongan semangat dari orang tuanya. Mereka perlu diberi motivasi terlebih dahulu.  Tindakan orang tua yang terlalu memaksa bukan pernecahan masalah yang baik.

Sering orang tua ingin anaknya menjadi pernberani seperti anak-anak "mudah". Biasanya ketika anaknya masih menunjukkan gelagat ragu-ragu atau takut, mereka menjadi gusar. Lantas keluarlah dari mulutnya ornelan, sindiran atau bahkan ancaman.
Lebih parah lagi bila memaksakan anak yang sedang dalam proses penyesuaian untuk segera melakukan yang diminta orang tua.   

Waktu pernanasan yang dibutuhkan oleh anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru bisa dipersingkat dengan latihan-latihan.
Sebelum anak dilatih dengan membawanya ke tempat-tempat baru baginya, lebih baik bila diberi pengertian dan motivasi terlebih dahulu. Ini agar anak tidak terlalu terkejut dan sudah sedikit mengenal lingkungan baru tersebut lewat cerita ibunya.

Cara lain adalah dengan meningkatkan keberaniannya secara. umum. Misalkan dengan jenis permainan tertentu yang memacu tumbuhnya keberaniannya. juga dengan memperluas sosialisasi dan proses pergaulannya yang alami dengan teman-teman sebayanya.
  
Anak yang Sulit
Anak ini sering makan hati orang tua. Membuat gemas, jengkel sekaligus malu.
Bayangkan, kernanapun orang tua pergi, ia membuntut, baju ibu tak pernah lepas dari pegangan tangannya. Bila ada orang menyapa, ia justru menelusupkan wajah di sela-sela baju ibu, seakan-akan hendak masuk ke dalamnya. 
Itulah Fira, si kecil mungil yang lembut ini nampaknya sama sekali tak tertarik untuk ikut bermain bersama temannya. lbunya heran, mengapa anaknya selalu mempunyai rasa takut dan khawatir yang berlebihan bila berada di lingkungan yang baru. Dengan orang-orang yang belum dikenalnya ia sama sekali tak mau bicara.
Padahal di rumah, di tengah keluarga, Fira adalah gadis yang lucu. Wajahnya yang imut-imut, tingkahnya yang  jenaka, serta bibir tipisnya tak berhenti menceritakan satu demi satu teman-teman barunya.

Siapa yang tak heran.  Ketika tiba di halaman sekolah, Fira. kembali berubah menjadi gadis penakut, pasif, dan pernalu yang terus minta ditemani ibu duduk di kelas. Itu berlangsung selarna pekan pertama.
Seminggu berikutnya ibu boleh menunggu di luar kelas tetapi harus sambil berdiri di dekat jendela sehingga nampak dari dalam. 

Di dalam kelas pun, ia belum tertarik untuk berkomunikasi dengan teman-temannya pada minggu-minggu awal. Pertarna kali ia mau ke depan kelas untuk bernyanyi setelah sebulan.  
Satu-satunya yang bisa dilakukan orang tua terhadap anak seperti ini adalah bersabar menunggu waktu. Hanya waktu yang bisa menyelesaikannya. Tak ada gunanya capai-capai mendamprat, mengomel, atau ngotot memaksanya untuk jadi berani. Percuma, bikin sakit hati saja.

Bahkan omelan, ejekan dan hinaan, dalam banyak kasus hanya akan menghilangkan rasa percaya diri si anak.  Banyak orang tua yang ingin menunjukkan kernampuan anak-anaknya di depan orang lain, menjadi gregetan gara-gara si anak tiba-tiba diam seribu bahasa, pemalu, dan nampak bingung saat ditanyai macam-macam.

Padahal semua pertanyaan bisa dijawab dengan lancar di rumah.  Kemudian terlontar kejengkelan ibu "Oo... Fira tidak pintar. Lihat itu Rini dan Linda ... pintar... mau mainan sendiri." Atau, "mama nggak mau belikan permen jika Ari tak mau berhitung 1-10. tuh, tante kepingin tahu kalau Ari sudah pintar. Ayo berhitung ... dong."  Adegan jadi nampak lucu.

Sebenarnya anak-anak ini memang sudah tahu jawaban-jawaban dari aneka pertanyaan yang didengarnya. Tetapi mereka sedang malas menjawab, lantaran tak menyukai suasana yang seakan menilai dan menguji kepandaiannya.
Yang sewot tentu saja orang tua karena merekalah yang sebenarnya ingin anaknya dipuji orang.  Penyebab utamanya perilaku yang "sulit" ini bisa karena faktor kurangnya keberanian, kurangnya latihan bersosialisasi dengan lingkungan, bisa juga faktor keturunan.
Cara mengurangi rasa kekhawatiran yang berlebihan terhadap lingkungan baru adalah dengan pembiasaan, pemberian pengertian, dan motivasi di samping meningkatkan keberanian secara umum. 

Dari setumpuk kejengkelan yang harus dipendam orang tua menghadapi perilaku anaknya yang "sulit" ini, masih ada juga kelebihan yang mereka miliki.
Sifat sulit beradaptasi dengan situasi yang baru membuat anak kerasan berada di rumah, senantiasa berada dekat ibunya.  Hubungan batin dengan ibu biasanya amat erat, sehingga. lebih mudah bagi orang tua untuk mengarahkannya.
Juga si anak tumbuh menjadi lebih sabar dan telaten, tidak terlalu lincah. Mudah di arahkan ke segi-segi kognisi, tetapi perkembangan - keberaniannya bisa terhambat bila tidak segera ditangani perilakunya yang ketakutan secara berlebihan terhadap lingkungan baru.

“Cara mengurangi rasa kekhawatiran anak yang berlebihan terhadap lingkungan baru adalah dengan pembiasaan, pemberian pengertian, dan motivasi di samping meningkatkan keberanian secara umum”



Itulah 3 tipe anak anak kita ayah bunda. Pada postingan selanjutnya, akan kita sampaikan bagaimana cara mendidik ketiga 3 anak tersebut dengan penuh cinta. Insya Allah.


---

5 LANGKAH SAAT BUAH HATI MENGAMUK DI TEMPAT UMUM

cara mengatasi anak yang mengamuk

Saat buah hati mengamuk / menangis di tempat umum, akan menjadikan ayah bunda galau.
Banyak penyebab mengapa buah hati menangis atau menamuk ditempat umum.
Seringkali penyebabnya adalah karena ia tidak mendapatkan apa yang di inginkanya.
Kegalauan ayah bunda akan menjadikan kebanyakan ayah bunda mengambil satu dari 2 tindakan, membentaknya atau memenuhi permintaanya.

Berikut tips alternatif tindakan yang bisa ayah bunda ambil..

1. Alihkan Perhatian
Sebagai orang tua, ayah bunda harus mengenali kepribadian buah hati.
Kenali apa yang membuat buah hati teralihkan, kenali apa yang paling buah hati sukai.
Saat hendak pergi ketempat umum, sertakan yang menjadi kesukaan buah hati. Saat ia mengamuk, alihkan dengan hal yang paling dia sukai tersebut ya ayah bunda...
Jika ayah bunda belum mengenalinya, maka yang paling penting adalah ayah bunda menambah waktu untuk bersama buah hati. Perhatikan dan kenali apa yang buah hati sukai..

2. Berinteraksi Dengan Hati
“Segala yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.” Kesalahan terbesar orang tua adalah saat bersama si kecil hanya hadir secara fisik, namun tidak menyertakan hati.
Saat bersama buah hati, ayah bunda harus mencurahkan segenap perhatian dan perasaan.
Saat menasihati lakukan dengan segenap hati, demikian pula saat menyuapi, mengajak bermain, dan segala interaksi apapun.
Biasakan hal itu maka saat ayah bunda memberikan istruksi buah hati akan lebih nurut...

3. Tetapkan Aturan
Ketika ayah bunda pergi biasanya si kecil akan merengek.
Tegaskan pada buah hati untuk mematuhi aturan atau syarat tertentu, termasuk tidak membeli sesuatu..
Larangan atau aturan ini harus disampaikan dengan tegas namun penuh kelembutan dan dengan segenap hati.
Biasanya anak kecil merengek karena ia menginginkan sesuatu, kenali hal itu sedari awal dan buat perjanjian terkait hal itu..
Agar anak patuh, ayah bunda harus memenuhi janji atau aturan yang di tetapkan di awal ya..

4. Tetap Tegas dengan Aturan
Ketika mereka tetap mengamuk di tempat umum, ayah bunda harus tegas dengan aturan. Tetap tenang, jangan marahi si kecil. Berikan penegasan dengan lembut.
Mungkin si kecil akan tetap mengamuk, namun secara perlahan ia akan belajar dan tidak menjadikan mengamuk sebagai senjata untuk meminta di kemudian hari.

Baca Juga:

5. The Power of Doa
Buah hati adalah titipan Tuhan. Jika buah hati kita tidak nurut sama kita, “kembalikan” sama Tuhan lewat doa ayah bunda.
Doakan buah hati kita setia hari sebanyak banyaknya ya...
Seringkali kita salah mengartikan berdoa dengan membaca doa.
Berdoa adalah memohon. Memohon artinya harus fokus, dan sepenuh hati, dengan keyakinan pada kekuasaan Tuhan.
Jangan lupa setiap melihat anak siapapun nakal, langsung doakan anak itu dan anak kita jadi anak yang baik, nurut, dan dibimbing oleh Tuhan.



Itu tips yang bisa ayah bunda ambil.. Semoga bermanfaat ya ayah bunda...

Jangan lupa share ya ayah bunda, agar semakin banyak yang mengambil manfaat..


Camilan Sehat untuk Anak


camilan untuk anak


CAMILAN atau snack juga dibutuhkan oleh anak kita lho ayah bunda. Namun bukan sembarang camilan, berikan pada buah hati kita hanya camilan yang sehat yang seimbang bagi kebutuhan nutrisinya.

Karenanya ayah bunda harus membuat perencanaan makanan camilan yang baik bagi anak.

Camilan yang paling sehat bagi buah hati kita adalah sayuran dan buah. Sayuran dan buah mengandung serat dan mampu merangsang kelenjar ludah sehingga kondisi rongga mulut menjadi tidak asam.

Jika buah hati kita mengkonsumsi makanan yang mengandung gula tinggi seperti coklat, akan membat mulut menjadi sangat asam.
Asam pada rongga mulut akan menjadikan gigi cepat rusak dan berlubang.

Ahli gizi keluarga Leona Victoria Djajadi, MND, jenis camilan yang terbaik diberikan pada anak adalah sayur dan buah.
Jika bisa, tambahkan pula protein, makanan yang mengandung kalsium, rendah lemak, dan gula buatan atau gula putih.

"Contohnya produk susu, yang rendah lemak, kaya kalsium, fosfat,dan protein. Susu juga bagus buat gigi baik dari faktor luar dan dalam bisa membentuk gigi yang bagus," kata Leona.

Camilan berbahan dasar kdelai juga bagus bagi anak karena mengandung kalsium yang tinggi, serta kaya sumber serat nabati.

Bunda juga hasrus pandai mengkombinasi camilan tersebut setiap harinya agar anak tidak bosan.
Biasakan agar anak mengkonsumsi sayuran sejak dini ya ayah bunda...


Berikan Camilan Sambil Latih Motorik Anak
Kebutuhan nutrisi yang besar pada anak, menjadikan ayah bunda harus memberikan perhatian lebih pada nutrisi yang dikonsumsi buah hati kita.

Kesalahan kebanyakan ayah bunda adalah, melarang buah hati untuk makan sendiri dengan alasan berantakan (jika masih balita) atau justru membiarkan buah hati bermain gadget.
Justru seperti itu menjadikan anak tidak terasah motorik atau kemampuan geraknya.
Ayah bunda harus melatih dan mengkondisikan agar buah hati berusaha makan sendiri.
Singkirkan gadget saat buah hati hendak makan.

Selain itu dengan melatih gerak dari buah hati kita bisa bermanfaat bagi kesehatanya dimasa depan.

Redam Keinginan Anak-anak Jajan Camilan
Banyaknya jenis jajanan saat ini merupakan hal yang harus ayah bunda waspadai.
Jajanan yang dikonsumsi terus menerus bisa berakibat tidak baik pada tubuh dan gigi buah hati ayah bunda.

Menurut pakar gizi keluarga Leona Victoria Djajadi, MND, kehadiran ragam jajanan menarik dan mudah didapatkan saat ini mendorong masyarakat mengonsumsi camilan melebihi frekuensi yang dianjurkan.
Apalagi ketika tengah bepergian atau mengunjungi mal,  penasaran ingin mencoba rasa baru menjadi dorongan kuat mengonsumsi jajanan tanpa terencana.
"Untuk menyiasati jajanan di mal-mal, pertama harus membuat rencana menu. Sebisa mungkin siapkan makanan dari rumah dan rencanakan ketika pergi ingin makan apa," ujar Leona dalam media briefing Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2017.

Pemberian snack atau camilan yang terbaik adalah sekitar 2-3 kali setiap harinya. Pemberian snack yang terbaik adalah 2-3 jam sebelum atau sesudah makan.


Jika saat anak sekolah, lebih baik dengan memberi bekal anak. Bekal seperti buah akan memiliki manfaat ganda bagi anak, karena, bervitamin, sehat, dan membantu anak konsentrasi.



---

Tanda Anak Dalam Kondisi Sehat

ayah bunda harus tahu tanda anak sehat

Tumbuh kembang buah hati adalah fokus utama yang harus diperhatikan oleh ayah bunda.  Namun banyak ayah bunda yang kurang peka dengan kesehatan buah hati.
Ayah bunda harus mengenali tanda buah hati dalam kondisi tercukupi kebutuhan gizinya ya...
Jangan sampai ketika kondisi kurang gizi sudah kronis baru diketahui..

Tanda Buah Hati Tercukupi Gizinya
Ayah bunda, inilah tanda kalau buah hati sudah tercukupi kebutuhan gizinya.
1. Tinggi dan berat badannya tumbuh sesuai tahapan usia
2. Bibir terlihat segar, mata bening dan wajah yang ceria
3. Nafsu makan dan BAB yang teratur
4. Berbicara lancar dan bergerak aktif
5. Reaksi yang aktif dan penuh perhatian
6. Tidurnya nyenyak
7. Rambut dan Kulit tumbuh dengan baik dan sehat.

Bagaimana Ciri Rambut dan Kulit Sehat?
Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), Yustina Ani Indriastuti menyatakan, rambut yang berkilau, kuat, tidak mudah rontok dan patah, serta kulit yang kecang,  dan cerah (bukan berarti harus putih, tapi cerah) menandakan si Kecil dalam kondisi gizi yang optimal.
Sebaliknya jika rambut kusam, mudah rontok atau patah, tidak bercabang dan kulit terlihat kusam, menandakan kebutuhan gizi si Kecil dalam kondisi kurang optimal.

Ayah bunda perlu tahu, bahwa kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan lemak pada usia anak lebih besar dari pada usia dewasa. Jadi pastikan ayah bunda mencukupi semua kebutuhan nutrisi pada si Kecil.

Mengenai tebal atau tipisnya rambut, dr Titi Lestari Sugito, SpKK, dokter spesialis Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUPN Cipto Mangunkusumo, menyatakan bahwa tebal tipisnya rambut karena faktor gen, bukan faktor gizi.
Agar rambut buah hati lebat dan tebal saat ini sudah banyak perawatan. Yang alami ayah bunda bisa menggunakan minyak orang-aring, atau minyak kemiri.

Bagaimana Agar Kulit dan Rambut Si Kecil Tetap Sehat?
Jika ayah bunda menemukan kondisi rambut yang kusam atau mudah rontok, maka ayah bunda harus menilai ulang apa yang dikonsumsi si Kecil.
Berikan si Kecil makanan yang mengandung   protein tinggi, kaya serat, magnesium, kalsium dan vitamin. Juga kebutuhan minum si kecil harus diperhatikan.

Beberapa perawatn rambut yang disampaiakan Dr Eddy Karta, SpKK, menyarankan ayah bunda untuk melakukan beberapa perawatan berikut ini:
  • Saat mandi, jangan lupa untuk membersihkan tubuhnya dengan sabun,  serta mencuci rambut Si Kecil dengan menggunakan shampoo khusus anak.
  • Lindungi Si Kecil dari sengatan sinar matahari, debu dan kotoran.
  • Batasi kebiasaan mandi dengan air panas.
  • Cukupi kebutuhan gizi Si Kecil.
  • Kalau memang dibutuhkan, ayah bunda bisa melakukan perawatan tambahan khusus untuk anak-anak, termasuk lotion dan perlengkapan perawatan rambut.


 ---

DIET SEHAT

More »

HASIL PENELITIAN

More »

PARENTING

More »

HIDUP SEHAT

More »