3 TIPE ANAK, KENALI TIPENYA DAN RAIH SUKSES MENDIDIKNYA

3 tipe anak

Tiga Tipe Anak

Setiap anak berbeda dan unik. Ada yang sulit, ada pula yang mudah beradaptasi. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Pukul tujuh tepat, bel  berbunyi. Beberapa anak termasuk Zaki berteriak, "Horeee!"  Zaki-lah anak pertama yang memilih tempat di dekat pintu masuk kelas, tempat anak-anak berbaris sebelum masuk kelas. Beberapa anak berjalan mengikuti Zaki dan mengambil tempat dibelakangnya. 
"Saya yang memimpin Bu Guru!" teriak Zaki sambil mengacungkan telunjuk tanpa diminta, Bu Guru memperbolehkan, dan dengan gembira Zaki maju dan menghadap ke arah teman-temannya.
lbunya yang memandang dari kejauhan tertawa geli. Hanya dari kejauhan, karena Zaki memang tak mau ditunggui. "Malu Bu. Kata lbu Guru, anak yang berani sekolah sendiri berarti mujahid. Zaki kan kepingin jadi mujahid. Kata ibu kalau mujahid itu pemberani seperti Satria Baja Hitam." , begitu alasan si Zaki.  "Siaaap grak!"

Suara keras Zaki memimpin barisan, termasuk Azzam. Bocah ini sebentar-sebentar menoleh mencari ibunya yang berdiri di belakang barisan, takut ditinggal.

“Setiap anak berbeda dan unik. Ada yang sulit, ada pula yang mudah beradaptasi. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan”

Masih ada seorang anak yang tak mau ikut berbaris, masih menempel erat pada ibunya. Wajah Fira, anak itu, nampak sangat tegang. Ketika diajak berbaris oleh Bu Guru ia justru semakin erat mendekap ibunya. Terpaksa ibunya turut menyertainya, berdiri dalam barisan. 

Ketika akhirnya anak-anak masuk kelas dan Bu Guru mulai bicara, ibu Fira terpaksa ikut jadi murid karena anaknya sama sekali tak mau beringsut darinya. lbu Azzam cukup menunggu di luar kelas dekat jendela sehingga masih bisa terlihat kerudungnya oleh Azzam.
Pernah sekali waktu ia mencoba pindah tempat. Begitu kerudung hilang dari pandangan Azzam, bocah itu langsung lari keluar mencarinya. Akhirnya ibupun kembali duduk dekat jendela. 

Lain lagi dengan ibu Zaki. Sejak dari rumah Zaki sudah wanti-wanti,  "pokoknya ibu tidak usah nunggu Zaki. "Ketika ibunya mencoba mengintip dari jendela dan kebetulan terlihat oleh Zaki, si calon mujahid ini langsung keluar kelas marah pada ibunya.

Perilaku Zaki, Azzam, dan Fira sudah cukup mewakili gambaran karakter anak pada umumnya. Zaki menjadi model anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan suka mencoba sesuatu yang baru. Anak-anak seperti ini biasanya diistilahkan sebagai anak yang "mudah". 
Azzam tidak seberani Zaki. Untuk beradaptasi dengan lingkungan pun tidak segampang temannya itu. Model yang seperti ini disebut anak yang "perlu waktu pemanasan". Sebaliknya yang masih sangat takut seperti Fira diistilahkan anak yang "sulit".  

Anak yang Mudah
Anak-anak golongan ini biasanya penampilannya penuh keberanian dan terbuka. Tampil dan berbicara apa adanya. Mudah bergaul dengan orang-orang yang baru dikenalnya, lincah, serta banyak bicara.
Mereka sama sekali tidak canggung berada di lingkungan yang baru. Bahkan beberapa dari anak-anak ini tergolong sangat aktif  Secara sekilas orang tentu kagum. "Enak punya anak seperti Zaki,"  komentar ibu-ibu. "Tidak merepotkan," tambah ibu yang lain.
Memang tidak merepotkan, karena di rumah pun Zaki lebih banyak main keluar. Ada segudang teman-temannya yang biasa ia datangi rumahnya, satu persatu setiap hari. la pulang hanya untuk makan dan tidur saia. Hanya sesekali ia mengajak teman-temannya bermain di rumah. 
Tetapi ada kelemahan pula pada anak-anak golongan ini. Karena saking mudahnya beradaptasi, jadi terlalu sering berpindah tangan pengasuh. Ini buruk akibatnya bagi dirinya sendiri. Seminggu tinggal bersama nenek, baru pulang sebentar dijemput tantenya untuk dibawa selarna 7 hari pula. 

Setiap orang tak pernah punya pola asuh yang sama. Batasan, larangan, cara memerintah, cara membujuk hingga, nilai-nilai yang disampaikan dari ibu, tante dan nenek tidak akan pernah sama.
Bahkan ada kalanya bertolak belakang. Sernua itu hanya akan membuat anak bingung hingga pada akhirnya mereka jadi sulit diberi pengertian. 
Selain itu, karena sifat anak-anak ini yang suka mencoba hal yang baru, orang tua harus waspada terhadap barang-barang yang berbahaya.
Zaki sendiri pernah mencoba memasukkan jarinya ke dalam kipas angin yang sedang berputar di rumah temannya. Tentu saja luka yang ia bawa pulang. 

Anak yang Perlu Pemanasan
 Tidak terlalu berani, tidak pula penakut. Yang jelas ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Setelah tenggang waktu tersebut, mereka telah memperoleh kepercayaan dirinya kembali. la juga bisa menjadi begitu berani seperti teman-temannya yang "mudah". 

Dengan orang yang belum dikenal mereka hanya diam walaupun bukan berarti penakut. Tetapi setelah kenal mereka bisa saja segera akrab.
Anak-anak ini perlu dorongan semangat dari orang tuanya. Mereka perlu diberi motivasi terlebih dahulu.  Tindakan orang tua yang terlalu memaksa bukan pernecahan masalah yang baik.

Sering orang tua ingin anaknya menjadi pernberani seperti anak-anak "mudah". Biasanya ketika anaknya masih menunjukkan gelagat ragu-ragu atau takut, mereka menjadi gusar. Lantas keluarlah dari mulutnya ornelan, sindiran atau bahkan ancaman.
Lebih parah lagi bila memaksakan anak yang sedang dalam proses penyesuaian untuk segera melakukan yang diminta orang tua.   

Waktu pernanasan yang dibutuhkan oleh anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru bisa dipersingkat dengan latihan-latihan.
Sebelum anak dilatih dengan membawanya ke tempat-tempat baru baginya, lebih baik bila diberi pengertian dan motivasi terlebih dahulu. Ini agar anak tidak terlalu terkejut dan sudah sedikit mengenal lingkungan baru tersebut lewat cerita ibunya.

Cara lain adalah dengan meningkatkan keberaniannya secara. umum. Misalkan dengan jenis permainan tertentu yang memacu tumbuhnya keberaniannya. juga dengan memperluas sosialisasi dan proses pergaulannya yang alami dengan teman-teman sebayanya.
  
Anak yang Sulit
Anak ini sering makan hati orang tua. Membuat gemas, jengkel sekaligus malu.
Bayangkan, kernanapun orang tua pergi, ia membuntut, baju ibu tak pernah lepas dari pegangan tangannya. Bila ada orang menyapa, ia justru menelusupkan wajah di sela-sela baju ibu, seakan-akan hendak masuk ke dalamnya. 
Itulah Fira, si kecil mungil yang lembut ini nampaknya sama sekali tak tertarik untuk ikut bermain bersama temannya. lbunya heran, mengapa anaknya selalu mempunyai rasa takut dan khawatir yang berlebihan bila berada di lingkungan yang baru. Dengan orang-orang yang belum dikenalnya ia sama sekali tak mau bicara.
Padahal di rumah, di tengah keluarga, Fira adalah gadis yang lucu. Wajahnya yang imut-imut, tingkahnya yang  jenaka, serta bibir tipisnya tak berhenti menceritakan satu demi satu teman-teman barunya.

Siapa yang tak heran.  Ketika tiba di halaman sekolah, Fira. kembali berubah menjadi gadis penakut, pasif, dan pernalu yang terus minta ditemani ibu duduk di kelas. Itu berlangsung selarna pekan pertama.
Seminggu berikutnya ibu boleh menunggu di luar kelas tetapi harus sambil berdiri di dekat jendela sehingga nampak dari dalam. 

Di dalam kelas pun, ia belum tertarik untuk berkomunikasi dengan teman-temannya pada minggu-minggu awal. Pertarna kali ia mau ke depan kelas untuk bernyanyi setelah sebulan.  
Satu-satunya yang bisa dilakukan orang tua terhadap anak seperti ini adalah bersabar menunggu waktu. Hanya waktu yang bisa menyelesaikannya. Tak ada gunanya capai-capai mendamprat, mengomel, atau ngotot memaksanya untuk jadi berani. Percuma, bikin sakit hati saja.

Bahkan omelan, ejekan dan hinaan, dalam banyak kasus hanya akan menghilangkan rasa percaya diri si anak.  Banyak orang tua yang ingin menunjukkan kernampuan anak-anaknya di depan orang lain, menjadi gregetan gara-gara si anak tiba-tiba diam seribu bahasa, pemalu, dan nampak bingung saat ditanyai macam-macam.

Padahal semua pertanyaan bisa dijawab dengan lancar di rumah.  Kemudian terlontar kejengkelan ibu "Oo... Fira tidak pintar. Lihat itu Rini dan Linda ... pintar... mau mainan sendiri." Atau, "mama nggak mau belikan permen jika Ari tak mau berhitung 1-10. tuh, tante kepingin tahu kalau Ari sudah pintar. Ayo berhitung ... dong."  Adegan jadi nampak lucu.

Sebenarnya anak-anak ini memang sudah tahu jawaban-jawaban dari aneka pertanyaan yang didengarnya. Tetapi mereka sedang malas menjawab, lantaran tak menyukai suasana yang seakan menilai dan menguji kepandaiannya.
Yang sewot tentu saja orang tua karena merekalah yang sebenarnya ingin anaknya dipuji orang.  Penyebab utamanya perilaku yang "sulit" ini bisa karena faktor kurangnya keberanian, kurangnya latihan bersosialisasi dengan lingkungan, bisa juga faktor keturunan.
Cara mengurangi rasa kekhawatiran yang berlebihan terhadap lingkungan baru adalah dengan pembiasaan, pemberian pengertian, dan motivasi di samping meningkatkan keberanian secara umum. 

Dari setumpuk kejengkelan yang harus dipendam orang tua menghadapi perilaku anaknya yang "sulit" ini, masih ada juga kelebihan yang mereka miliki.
Sifat sulit beradaptasi dengan situasi yang baru membuat anak kerasan berada di rumah, senantiasa berada dekat ibunya.  Hubungan batin dengan ibu biasanya amat erat, sehingga. lebih mudah bagi orang tua untuk mengarahkannya.
Juga si anak tumbuh menjadi lebih sabar dan telaten, tidak terlalu lincah. Mudah di arahkan ke segi-segi kognisi, tetapi perkembangan - keberaniannya bisa terhambat bila tidak segera ditangani perilakunya yang ketakutan secara berlebihan terhadap lingkungan baru.

“Cara mengurangi rasa kekhawatiran anak yang berlebihan terhadap lingkungan baru adalah dengan pembiasaan, pemberian pengertian, dan motivasi di samping meningkatkan keberanian secara umum”



Itulah 3 tipe anak anak kita ayah bunda. Pada postingan selanjutnya, akan kita sampaikan bagaimana cara mendidik ketiga 3 anak tersebut dengan penuh cinta. Insya Allah.


---


EmoticonEmoticon