Pendidikan Terbaik Untuk Anak #2



Pendidikan terbaik bagi anak dari orang tua adalah dengan kelembutan. Mengapa?

Membuktikan Cinta Ibu
Anak tidak bisa merasakan dan menikmati cinta dan kasih sayang orang tua, jika tidak dibuktikan. Bagaimana membukfikannya ? 

“..... satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih, walau dalam keadaan marah sekalipun”

Keterlaluan!" Kata ibu suatu ketika "Disuruh mengembalikan sepatu ke tempatnya, eh malah berani mengata-ngataiku".
Di waktu lain, Bu Didin bercerita tentang Andri yang tak pemah mau merapikan kasur, tak juga membereskan kamamya sendiri. Pokoknya hampir seluruh permintaan ibunya tak dilakukan, menyebabkan terjadinya pertengkaran demi pertengkaran yang biasanya terjadi saban hari. 

Saat itu Andri baru saja selesai bermain mobil-mobilan dengan dua temannya. Diapun dengan santai melangkah hendak pergi meninggalkan dua belas mobil-mobilannya berserakan di ruang tengah, ibunya spontan menegur, "Andri, bereskan dulu mainanmu."  "Nanti saja Bu!" kata Andri santai saja. 
"Hei! Ayo kembali. Rapikan dulu ruang tengah! Dasar bandel. Bisanya membantah saja," kata ibu. Nada suaranya meninggi.  "Nanti Bu, aku ditunggu teman-teman di luar itu lo," Andri menjawab jengkel. 
"Berapa puluh kali harus lbu katakan, kau harus membereskan mainanmu sendiri. Kau ini memang anak malas," sergah ibu. 
Didamprat ibunya seperti itu tak membuat Andri surut, la justru mengeluarkan maki-makian dari mulutnya sambil tetap melenggang santai. 

Sulit dibayangkan, ada anak yang begitu berani terhadap ibunya. Bahkan dari sorot mata si bocah cilik itu tampak sekali terbersit kebencian dan kemarahan yang luar biasa. Adakah si ibu membenci anak satu-satunya itu? Besar kemungkinan, tidak. Yang telah teriadi hanyalah kesalahpahaman antara ibu dan anak.

Bu Didin mencintai Andi, itu dikatakannya ratusan kali pada siapapun. Akan tetapi sayang, temyata nyonya muda ini salah dalam mengkomunikasikan rasa sayangnya. Gara-gara sikapnya yang emosional dan perkataannya yang kasar, anak tak menangkap adanya suasana kasih sayang. 

Mengapa Harus Lembut?
Rasulullah mengibaratkan anak seperti kertas putih bersih, tergantung pada orang tuanya, mau ditulis dengan tinta wama merah, hijau, atau jingga. Orang tua terlalu cepat memvonis nakal, malas, bandel atau bahkan durhaka terhadap anak-anaknya sendiri, padahal merekalah yang paling dominan membentuk karakter dan kepribadiannya.

Kalaupun itu benar, bukankah para, orang tua yang lebih bertanggung jawab atas sifat- sifat buruk itu?  Realitas ini perlu diketahui, sebab sering terjadi, orang tua yang sangat mencintai anaknya harus kecewa melihat kenyataan si anak menjadi bengal dan pembantah. Orang tua merasa telah mengorbankan apa saja demi anaknya, tapi justru mereka menjadi pemberontak.

Para orang tua banyak yang salah memilih metode pendidikan. Sebagian orang tua menganggap bahwa untuk meluruskan sikap anak yang kurang baik harus ditempuh cara-cara yang keras, seperti menghukum, berkatakata keras dan kasar. Cara seperti itu tak mungkin berhasil, malah sebaliknya dapat menimbulkan dendam pada diri anak. 

Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan secara khusus kepada Nabi Muhamma'd saw agar meninggalkan cara-cara kasar, sebab kekasaran bukan mendekatkan ummat kepadanya, tapi justru akan menjauhkannya.

Allah berfirman:  Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan. (QS. Ali Imraan: 159) 

Meskipun ayat ini ditujukan kepada Nabi dalam membina ummatnya, tapi pembinaan itu bersifat universal. Ayat di atas juga berlaku bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya. jika mereka ingin agar anaknya lebih mendekat, maka jalan yang mestinya ditempuh adalah mendidik dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar. 

"Sifat dasar manusia akan mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati kepadanya. Hal ini menciptakan perasaan wajib untuk membalas kebaikan orang tersebut.”

Berbuat lembut kepada anak, sama sekali bukan berarti harus menuruti semua permintaan anak. Orang tua terlebih dulu memahami pendapat dan keinginan anak yang sering konyol serta tidak masuk akal, kemudian dengan penuh kasih sayang mengarahkannya untuk mengerti batas antara boleh dan tidak. 

Perkataan kasar dan pemberian hukuman, adalah hal yang tidak diingini semua anak, walaupun menurut orang tua semua itu demi kebaikan anak semata. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidak senangan orang tua kepadanya.

Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih, walau dalam keadaan marah sekalipun

Menawarkan Kebaikan
 "Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi) yang lebih baik bila di beri senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang," tulis Dr. Bursteln dalam buku Dr Bursteln's Book on Children.

Sidney D. Craig pun menegaskan pendapat itu dengan didukung bukti dan argumentasi yang kuat. Orang tua harus tetap menunjukkan kasih sayang walau di saat anak sedang melakukan kesalahan.
Justru itulah saat yang tepat untuk menunjukkan rasa cinta kasih.  "Sifat dasar manusia akan mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati kepadanya,"kata Sidney dalam Raising your Child, not by force by love. Hal ini menciptakan perasaan wajib untuk membalas kebaikan orang tersebut. 

Sungguh menarik untuk disadari bahwa 14 abad silam, Nabi Muhammad SAW sudah menerapkan teori itu kepada siapapun.
Beliau mengampuni kaum Quraisy saat Fathul Mekah. Padahal merekalah yang dulu menghina dan menyiksa kaum muslimin. Beliau justru mendoakan kebaikan bagi orang-orang Thaif yang menghujani beliau dengan cercaan serta lemparan batu. 
Beliau juga menjenguk dan mendoakan kesembuhan wanita kafir yang sakit padahal wanita itu sangat buruk perilakunya kepada Nabi. Tindakan beliau yang selalu mencerminkan kelembutan dan kasih sayang itulah yang memberi andil masuk Islamnya tokoh-tokoh penting kaum kafir.

"Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi) yang lebih baik bila di beri senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang,"

Pahami Alasan Anak
Perintah bersikap lembut juga berlaku bagi orang tua yang menginginkan anaknya patuh.

Perilaku inilah yang rupanya tidak dimiliki oleh Bu Didin. Wanita ini memang bertipe perfeksionis, ingin semuanya serba sempurna. Dia mengharapkan anaknya bisa patuh seketika. Sifatnya yang kaku dan tidak sabaran mengakibatkannya segera bereaksi dengan kata-kata kasar disertai ancaman ketika anaknya melakukan sedikit kesalahan.

“Tak usah menjelek-jelekkan anak, tak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka sendiripun sudah tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang, sambil tetap memberi senyuman”

Padahal kesalahan bagi anak-anak itu wajar, karena mereka masih dalam proses belaiar.  Perlu diketahui bahwa semua anak mempunyai harga diri sebagaimana orang dewasa. Mereka tidak ingin harga dirinya diinjak-injak, walaupun oleh orang tuanya sendiri. Mereka tetap ingin menjaga harga dirinya, walaupun harus dengan cara melawan.
Inilah hakekat manusia yang tidak hanya berlaku pada orang dewasa saja, tapi juga buat anak-anak. 

Anak-anak mempunyai dunia sendiri. Salah dan benar mestinya diukur dari dunia mereka dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kejiwaannya. Bisa jadi menurut orang tua tindakan anaknya merupakan kesalahan fatal, tapi menurut anak-anak, hal itu bukan kesalahan.

 Mereka mempunyai alasan sendiri, kenapa begitu. Sebab ia hendak membereskannya nanti sepulang dari bermain. Sedang sekarang ia harus bergegas agar tak tertinggal teman-temannya yang sedang menunggu.
Celakanya, niat yang menurutnya baik itu ternyata dinilai ibunya salah. Akibatnya ia harus menerima hukuman kehilangan uang saku. 

Bandingkan akibatnya, bila Bu Didin saat itu keluar menemui teman-teman Andri dan meminta dengan lembut untuk menunggu sebentar, kemudian digandengnya Andri ke ruang tengah sambil berkata,"Yuk ibu temani kamu membereskan mainan. Kamu kan biasanya menyukai rumah yang bersih dan rapi." 

Tak usah menjelek-jelekkan anak dengan tuduhan malas dan bandel, tak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka sendiripun sudah tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang, sambil tetap memberi senyuman.

Menahan Emosi?

Kekasaran kata-kata dan kebiasaan marah, bisa dikarenakan orang tua tidak mampu menahan emosi. Padahal ketika berada dalam kondisi jiwa yang stabil, tidak terlalu sulit untuk bisa bersabar dan berlemah lembut. Sayangnya, tugas dan kewajiban menangani tugas rumah tangga yang begitu berat, sebagai sebuah rutinitas yang membosankan, dan menghabiskan waktu lama dapat memperlemah kondisi kejiwaan ibu, sehingga menjadi emosional dan cepat marah.

“....para orang tua sebaiknya merubah karakter kasar yang merugikan, sebelum menularkannya kepada anak-anaknya...”

Dibandingkan berbagai jenis pekerjaan lain, profesi ibu rumah tangga memang memiliki resiko kebosanan tingkat tinggi. Karena ibu harus menempuh profesi tersebut selama 24 jam dalam sehari, di kantor yang juga rumahnya, hanya bisa berpindah-pindah dari kamar ke kamar semata.

Orang-orang yang ditemuinya pun tak berganti dari hari ke hari, selama bertahun-tahun !
Kondisi pekerjaan yang mengenaskan ini lebih diperparah lagi dengan ketidakpedulian suami serta masyarakat yang kerap melupakan , tidak mempedulikan kerja berat ibu atau isteri. Masyarakat masih menilai pekerjaan rumah tangga sebagai urusan domestik yang sepele dan rendah. 

Konflik antara suami istri ikut meramaikan suasana rumah, membuat keadaan menjadi lebih panas. Banyak kaum ibu yang tak memiliki penyaluran yang baik untuk meredam emosinya, sehingga menjadikan anak sebagai sasaran pelampiasan emosi. 

Ada pula ayah ibu yang berperilaku kasar karena watak dan karakter dasar yang membentuk kebiasaan hidupnya. Mereka yang dibesarkan dengan disiplin militer yang keras, misaInya, besar kemungkinan akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras.
Ada kecenderungan orang tua semacam itu akan berlaku keras dan kasar kepada anak-anaknya. 

Selain itu, karakter kasar bisa terbentuk oleh lingkungan, terpengaruh oleh adat budaya masyarakatnya yang memang kasar. Beberapa suku bangsa di Indonesia memiliki budaya hidup yang lebih keras dan kasar dibanding suku yang lain.

Penyebabnya bisa jadi karena tantangan hidup yang dihadapinya mengharuskan mereka berperilaku seperti itu.  Karakter dasar yang keras, kasar dan emosional tersebut bisa jadi akan merusak pola pendidikan anak. Itu sebabnya, terhadap dirinya sendiri, para orang tua sebaiknya bermuhasabah, melakukan instropeksi, dan mampu merubah karakter kasar yang merugikan tadi, sebelum menularkannya kepada anak-anaknya. 

Ajaran Islam telah memberikan beberapa patokan pergaulan hidup yang beradab, jika patokan tersebut dipenuhi, akan mampu mengalahkan pengaruh adat budaya yang negatif tadi.

Beberapa aturan telah diajarkan Islam, seperti larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, larangan bagi wanita untuk melengkingkan suara, anjuran untuk segera berwudhu jika marah, hingga larangan memanggil teman dengan gelar dan sebutan yang jelek.


Baca Juga:


---


EmoticonEmoticon