Cara Mendidik Anak Agar Cerdas, Pintar, Mandiri, dan Sukses dimasa Depan.

agar anak cerdas, mandiri , dan sukses


Karena pikirannya masih sempit, anak sering mengemukakan alasan yang konyol. Semua itu harus tetap dihargai, untuk tumbuhkan percaya dirinya.  
Suatu pagi menjelang berangkat sekolah, Rifka as berteriak memanggil ibu di dapur.
"Bu, dimana kaos kakiku? 
"Selalu ribut kaos kaki setiap hari. Kenapa tidak kamu letakkan di tempatnya?" 
"Huuh, orang lupa masak enggak boleh." jawab Rifka ketus.

Agar Anak Mudah Dinasehati dan Patuh Pada Orang Tua

Agar anak patuh dan mudah dinasehati


Menumbuhkan Kepatuhan
Saat ini, sopan santun dan penghormatan antara anak dengan orang tuanya mulai luntur.
Bahkan, ada yang menganggap wajar apabila seorang anak membentak dan memarahi orangtuanya. Mengapakah bisa demikian?

Perilaku anak yang menjadi durhaka kepada orang tua, terkadang bukanlah kesalahan anak semata. Oarnga tua seringkali memiliki peran dalam menjadikan anak durhaka kepadanya. 
Loh Bagaimana bisa demikian?

Mendidik Anak Dengan Benar: Agar Perilaku Anak Menjadi Baik

Agar Anak Mnejadi Semakin Baik

Berikan Anak Kepercayaan
Semua anak memiliki potensi kebaikan, yang baru bisa berkembang jika memperoleh Kepercayaan. 

Haris berlari-lari mengitari ruangan, dari sudut ke sudut, sambil sesekali meraih dan mempermainkan benda benda yang menarik baginya. Kali ini giliran sebuah kursi mungil warna merah yang semula tersembunyi di balik almari, menjadi sasaran permainannya.
Bocah gemuk berusia 6 tahun itu pun segera mendorong kursi tersebut kesana kemari, sambii menirukan derum mobil.  Tentu saja, ulahnya itu membuat malu dan jengkel ibunya, yang sedang bertamu ke rumah tetangganya.
Mulanya sang ibu membiarkan Haris bebas bertingkah, tetapi sekarang tidak. Suaranya sudah cukup mengganggu, dan si pemilik rumah pun nampak mulai terganggu dengan tingkah si anak aktif ini.  
lbu pun mengancam dengan suara tinggi, "Haris, kembalikan kursinya!" , sambil matanya tajam menatap anak semata wayangnya itu. Yang ditegur hanya menoleh sebentar, dan tanpa peduli segera meneruskan aktifitasnya, berimajinasi sedang mengendarai mobil. 
Haris, suaranya ribut sekali. Rusak nanti kursinya. Ayo berhenti! Kembalikan!", tegur ibu untuk kedua kalinya.   Kali ini Haris benar-benar cuek, tak peduli. Bibirnya kian keras menirukan derum mobil dan "gedubrak...." jatuhlah kursi yang ada di tangannya. Kali ini ibu sudah benar-benar naik pitam, berdiri menghampiri Haris sambil berteriak marah, "Apa ibu bilang ... berhenti. Rusak kursi itu nantinya. Berdiri dan kembalikan !"
Didamprat seperti  itu tidak membuat nyali Haris surut. Dengan tajam matanya membalas tatapan ibunya, tangannya erat memegang kursi yang terjatuh di lantai. "Nggak! Nggak mau....!" Melihat reaksi melawan dari anaknya, ibu semakin jengkel dan berusaha memegang tangan anak itu,
 "Anak nakal !". Tetapi kini si anak pun semakin marah, mengibaskan tangannya, menatap ibunya dengan pandangan marah. 

Melihat suasana yang semakin panas antara ibu dengan Haris, si pemilik rumah berinisiatif menengahi. "Nggak..., Haris nggak nakal kok ya. Sudahlah Bu, biarkan saja. Haris kan anak yang bertanggung jawab. Nanti juga kalau sudah selesai bermain akan ia kembalikan sendiri di tempatnya. Bukan begitu, Haris ?"

Sungguh sebuah komentar yang sejuk, membuat Haris terperangah, emosinya mendadak sirna. Dengan tatapan aneh Haris memandang tetangganya  itu, nampak sedang memikirkan sesuatu.  Ajaib, karena sebentar kernudian anak ini pun berdiri, nampak sudah lebih tenang, mengangkat kursi yang terjatuh, mendorongnya sambil matanya menatap ibunya , dan mengembalikan kursi itu ke tempatnya ! 

Kepercayaan Pada Anak

Respon positif yang ditunjukkan Haris, adalah berkat kepercayaan yang diberikan tuan rumah kepadanya. Sebutan sebagai anak yang bertanggung jawab, dan keyakinan bahwa ia akan mengembalikan kursi itu ke tempatnya seusai bermain, benar-benar membuat Haris bersemangat untuk berbuat seperti persangkaan itu. Kepercayaan yang ia terima telah menumbuhkan sebuah energi dan motivasi untuk menjaga kepercayaan tersebut

 
Energi Dahsyat
Kepercayaan merupakan salah satu bentuk pengakuan dari satu pihak kepada pihak yang lain.

Secara alamiyah seseorang yang dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Perasaan seperti itu bukan hanya monopoli orang dewasa, anak-anakpun mempunyai perasaan yang sama. 
Dalam kasus Haris di atas, ia tiba-tiba mempunyai energi yang dahsyat untuk merubah perilakunya. Sang ibupun tak pernah menyangka jika Haris tiba-tiba menjadi anak yang bertanggung jawab, sebagaimana yang diucapkan oleh sang tuan rumah. 

Agar anak menurut


Prasangka, merupakan salah satu manifestasi kepercayaan. Prasangka baik menunjukkan adanya kepercayaan, sebaliknya prasangka buruk menunjukkan ketiadaan kepercayaan. Prasangka baik akan menumbuhkan energi untuk menjaga kepercayaan tersebut, sebaliknya prasangka buruk akan menimbulkan perasaan benci, terhina, dan keinginan untuk berbuat negatif seperti yang diprasangkakan  itu.

Manfaat Kepercayaan


Berprasangka Baik Kepada Anak
Berprasangka baik kepada anak yang berperilaku baik, merupakan pekerjaan mudah. Akan tetapi membangun prasangka baik terhadap anak yang bertingkah buruk, bagaimana memulainya ?

Mendidik Anak SMA

Keragu-raguan seperti inilah yang membuat ibu Haris sulit untuk berprasangka baik kepada anaknya, sebab si anak aktif itu memang sudah sering membuat masalah di mana saja, dan kapan pun juga. 

Untuk menghilangkan keragu-raguan ini, orang dewasa sebaiknya mengadakan feed back, meninjau ulang tentang hal-hal yang berkaitan dengan terbentuknya kepribadian anak.

Pertama, hendaknya diyakini bahwa pada awalnya semua anak terlahir dalam fitrah yang bersih seperti kertas putih. Orang tualah yang paling banyak berperan mengarahkannya, menjadi anak yang berkepribadian baik atau buruk. 

Kedua, banyak faktor luar seperti teman, guru dan lingkungan rumah yang turut memberikan pengaruh pembentukan kepribadian anak tersebut. 

Ketiga, metode pendidikan yang diterima anak tidak kalah besar pengaruhnya. Pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, guru di sekolah, bahkan kakek nenek serta saudara yang lain pun turut memberi andil yang tidak kecil dalam pembentukan kepribadian anak. 

Keempat, di luar faktor-faktor di atas, masih banyak faktor lagi yang bersifat kondisional, yang menyebabkan anak nampak tak sempurna di mata orang tua. 

Di luar keempat faktor di atas, yang perlu disadari bahwa setiap anak yang lahir membawa egosentrisme, yang selalu mendorongnya memilih setiap yang menyenangkan dirinya sendiri.
Fitrah anak-anak adalah semaunya sendiri, tidak peduli kepada orang lain. Adalah tugas orang tua dan guru untuk menghapus sisi negatifnya, karena anakanak tidak mampu menghilangkannya sendiri. jika usaha orang tua belum berhasil, janganlah kesalahan itu ditimpakan kepada anak-anak. 

Masalah ini menjadi penting diketahui, sebab seburuk apapun perangai, sikap, perilaku, dan kepribadian anak, sesungguhnya bukan mutlak kesalahan anak itu sendiri.

Banyak faktor eksternal yang ikut membentuk kepribadiannya, disamping faktor bawaan sejak lahir. Karenanya, tidak ada alasan bagi orang tua untuk ragu-ragu memberi kepercayaan kepada anak-anaknya. Apalagi kepribadian mereka sesunguhnya masih dalam proses pembentukan, maka inilah kesempatan yang baik untuk memberi kepercayaan kepada anak, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Anda wajib baca:
        



Kesalahan Orang Tua Yang Membuat Anak Jadi Bandel

Kesalahan orang Tua dalam mendidik anak


Orang Tua Bukan Polisi
Orang tua bukan polisi yang hanya bertugas mencari kesalahan orang dan menghukumnya. Bukankah lebih baik mencari kebaikan anak dan memberinya pujian?  

Menjadi Polisi yang Menakutkan

 Menjadi "polisi" bagi anak merupakan tindakan salah tapi kaprah. Salah karena tindakan itu sudah terlambat, anak sudah melakukan kesalahan baru diributkan. Kaprah karena tindakan ini paling sering dilakukan oleh kebanyakan orang tua, baik ibu maupun ayah.

Mereka baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak, bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. 


Sebelum membuat aturan, orang tua hendaknya mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, jangan diukur dengan ukuran orang dewasa.

Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan dunia orang dewasa. Karenanya ketika menetapkan, apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan sekali-kali menggunakan tolok ukur orang dewasa. Orang tua bukan polisi. 


  Positif dan Negatif tak Seimbang

Para polisi ini, adalah orang tua yang lupa tidak memberikan perhatian positif ketika anaknya berbuat baik. Tidak memberi pujian, ciuman, senyuman, anggukan kepala, bahkan menoleh pun tidak, ketika anaknya mandi tepat waktu, ketika sarapannya habis tak bersisa, ketika membuang bungkus permen di tempat sampah, atau ketika sesekali menutup pintu dengan pelan. 

Yang mereka perhatikan hanya ketika anak membanting pintu, menumpahkan minuman di lantai, mengotori dinding dengan kakinya, terlambat mandi, lupa membereskan mainan, membiarkan sikat gigi kotor di bak mandi, handuk yang tak tergantung di tempatnya, dan masih berderet-deret lagi kesalahan yang terlihat.

Kesemuanya ini segera  disambut dengan perhatian negatif, berupa teguran, kata-kata keras, ancaman, perintah, hingga hukuman.  Yang terjadi kemudian adalah ketidakseimbangan antara banyaknya perhatian positif dengan negatif. Terlalu banyak perhatian negatif, tidak sebanding dengan perhatian positif. 


Menjadi Penentang, Penggoda, atau Selalu Terlambat?

 Ada dua kemungkinan reaksi anak dalam menghadapi orang tua yang berperan sebagai polisi tadi. Kemungkinan pertama, anak-anak akan belajar untuk selalu menjadi penentang, sebisa mungkin mereka mengelakkan dari kekuasaan orang tua. 

Dari kelompok penentang ini dapat digolongkan menjadi 3 tipe.


Pertama, tipe penentang aktif.

Mereka menjadi keras kepala, suka membantah dan membangkang apa saia kehendak orang tua. Mereka marah karena orang tua tak menghargai dirinya sebagai manusia. Untuk melawan jelas tak bisa, karena sang "Polisi" punya kekuatan besar. Maka jalan yang dipilihnya adalah menyakiti hatinya.

Mereka akan senang jika orang tua menjadi jengkel dan marah karena ulahnya, semakin bertambah emosi orang tua, semakin senang mereka, bahkan rela dihukum asal bisa membuat orang tua jengkel.  Bisa jadi anak-anak itu memang menangis kesakitan sewaktu hukuman ditimpakan kepadanya.

Tapi percaya atau tidak, sebenarnya ada perasaan puas melihat "Polisi" jengkel dan kalang kabut. Kalaupun mereka tak kuat menahan hukuman, mereka akan mencari cara lain untuk membuat marah orang tua! 


Kedua, tipe pemberontak dengan cara halus.

Sadar bahwa tubuh kecilnya tak mampu menandingi kekuatan "polisi" yang tak lain orang tuanya sendiri, mereka memilih sikap diam, tapi tidak juga mengikuti perintah. Seperti saat ibu mengajar Udin untuk selalu buang air di WC.

Gaya ibu yang main perintah seperti polisi membuat Udin makin senang buang air besar di celana. 

Manakala ibu mengetahuinya, meledak-ledak kemarahannya. lbu menjadi semakin ketat melatih Udin duduk di WC, Udin pun belagak patuh.

Tetapi biar berpuluh-puluh menit berlalu, Udin tak juga mengeluarkan hajat. lbu akhirnya menyerah, Udin diizinkan keluar kamar mandi dengan pertimbangan memang belum waktunya melepas hajat' tetapi ternyata 5 menit kemudian Udin kembali buang air besar di celana. 


"Orang tua bukan polisi yang hanya bertugas mencari kesalahan orang dan menghukumnya. Bukankah lebih baik mencari kebaikan anak dan memberinya pujian?"


Ketiga, tipe selalu terlambat.

Anak-anak seperti itu baru mau mengerjakan suatu perintah setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, dan mengomel karena kemalasannya. Untuk menghabiskan semangkuk nasi saja mereka butuh waktu satu jam, itupun harus diiringi omelan ibunya secara terus menerus. lbu harus pula mengikuti kemana saja perginya si anak untuk menyuapinya.

Mereka akan pergi mandi beberapa menit sebelum saat Maghrib, setelah ibunya capai teriak-teriak menyuruh mandi semenjak usai Ashar. 

Mereka juga seringkali tergopoh-gopoh saat berangkat sekolah, bahkan mereka terlambat. Bukan karena banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan tetapi mereka sengaja terlambat. Kalaupun bangun pagi beberapa menit lebih awal pun masih tetap terlambat.

Karena mereka sudah terbiasa menunda-nunda pekerjaan dan baru kelabakan saat jam berangkat telah tiba.






DIET SEHAT

More »

HASIL PENELITIAN

More »

PARENTING

More »

HIDUP SEHAT

More »