Agar Anak Mudah Dinasehati dan Patuh Pada Orang Tua

Agar anak patuh dan mudah dinasehati


Menumbuhkan Kepatuhan
Saat ini, sopan santun dan penghormatan antara anak dengan orang tuanya mulai luntur.
Bahkan, ada yang menganggap wajar apabila seorang anak membentak dan memarahi orangtuanya. Mengapakah bisa demikian?

Perilaku anak yang menjadi durhaka kepada orang tua, terkadang bukanlah kesalahan anak semata. Oarnga tua seringkali memiliki peran dalam menjadikan anak durhaka kepadanya. 
Loh Bagaimana bisa demikian?

Kebanyakan orang tua tidak menyadari bahwa mereka membentuk sikap durhaka kepada anak-anak mereka.
Orang tua lupa bahwa anak yang durhaka adalah korban dari cara mengasuh dan mendidik yang salah di saat anak masih dalam usia dini.  Bagaimana seharusnya orang tua menanamkan ketaatan pada anak? Dengan kekerasan? Atau dengan ancaman dan hukuman?

Di bawah ini dipaparkan beberapa petunjuk dan saran bagi para orang tua, agar anak mau mentaati perintahnya sejak dini dan melenyapkan keinginan anak untuk melawan atau mendurhakainya. 

Walaupun beberapa hal yang disampaikan mengambil perspektif dalam agama Islam, namun secara makro ini bisa diterapkan pada semua agama, dengan berdasar pada keyakinan masig-masing.

Batas penghormatan yang mulai luntur


Wibawa Orang tua
Sangat sering terjadi dilingkungan kita, perintah orang tua dianggap angin lalu oleh anak. Perintah orang tua bahkan kalah dengan perintah TV yang bersuara :
“jangan kemana-mana, kami segera kembali setelah yang satu ini”

Dalam hal ini kesalahan tidak mutlak pada anak, walaupun ini juga perbuatan yang salah bagi anak.  Hal ini diakibatkan wibawa orang tua yang rendah dimata anak.  Alangkah baiknya jika orang tua segera menyadari kemudian melakukan instropeksi, sudahkah kewibawaan dimilikinya? 

Dalam perspektif agama islam, untuk menumbuhkan wibawa orang tua, Islam menawarkan suatu resep sederhana sebagaimana disitir dalam Al-Qur'an surat AlMuzzammil ayat 2-5: 
"Bangunlah & malam hari (untuk shalat), kecuali sedikit (daripadanya), setengahnya atau kurangilah sedikit daripadanya, atau lebihkan dari padanya dan bacalah alQuran itu sungguh-sunguh. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu 'qaulan tsaqiila. " 

Itulah janji Allah bagi orang-orang yang melaksanakan shalat lail dan membaca Al-Qur'an dengan tartil di malam hari. Dijanjikan mendapatkan'Qaulan tsaqiiia'atau perkataan yang berat (berwibawa). 

Sebuah kisah bisa kita ambil sebagai contoh. Seperti ketika Rasulullah SAW yang sedang bepergian seorang diri tanpa membawa senjata di tengah gurun yang sepi. Disaat Rasulullah sedang istirahat, datanglah seorang algojo yang sangat membenci Rasulullah SAW, Da’tsur namanya. Da'tsur munghunuskan pedang siap bersia untuk membunuh Rasulullah SAW. Da’stur tertawa penuh kemenangan dan berkata,
 "Sekarang...., siapakah yang mampu menyelamatkanmu dari kibasan pedangku ini?"
Sambil tetap tenang, Rasulullah  SAW pun menjawab penuh kewibawaan, "Allah".
Bagai disambar petir, nyali Da'tsur tiba-tiba hilang mendengar nama Allah disebut Rasululah SAW. Serta merta pedang Da'tsur pun terjatuh dari tangannya yang gemetar. 

Walaupun dalam hal ini beliau adalah Rasulullah, utusan Allah. Namun dalam hal kewibawaan kita bisa mendapatkan seperti yang beliau miliki, walaupun dengan kadar yang pastinya berbeda. 

Kepatuhan kepada Tuhan

Seorang  ayah ataupun  ibu yang mempunyai Qaulan Tsaqiila atau kewibawaan  ini tidak akan menemui kesukaran dalam memberi perintah kepada anak-anak karena wajah mereka akan memancarkan cahaya bekas sujud di malam hari dan ucapan mereka akan penuh wibawa dan pesona.  Kalaupun ada yang tetap sukar memberi perintah pada anaknya, itu sangat jarang terjadi.

Hikmah Pendidikan Luqman
Sangat baik jika orang tua mengambil teladan dari pendidikan Luqman kepada anak-anaknya.

Dalam mendidik kepatuhan, Luqman mengajarkan anak-anaknya agar terlebih dahulu mentaati Allah, sebagaimana firman-Nya: 
"Hai anakku! janganlah engkau sekutukan (sesuatu) dengan Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah penganiayaan (diri) yang besar. " (QS. 31:13) 

Setelah menanamkan ketaatan mutlak kepada Allah, barulah Luqman menyuruh anaknya untuk taat padanya. Itupun selama ketaatan pada orang tua tidak bertentangan dengan ketaatannya kepada Allah.

Nukilan QS. Luqman (31):14-15 mengungkapkan ajaran Luqman ini kepada anaknya. 
"Hendaklah engkau syukur kepada-Ku dan ibu bapakmu. KepadaKu lah tempat kembali. Dan jika mereka mengajarkan sungguhsungguh untuk meyekutukan Aku (Allah) dengan sesuatuyang engkau tidak mengerti tentangnya, maka janganlah engkau taati mereka. Tetapi bergaullah dalam urusan dunia dengan sopan. " 

Jangan tanamkan kewajiban taat hanya terhadap orang tua, tapi lanjutkan atau hubungkan dengan ketaatan kepada Allah. Jika hal ini dibiasakan, kepribadian anak akan terbentuk untuk selalu taat pada perintah, baik saat orang tuanya ada atau tidak, karena ia punya rasa taat kepada Allah yang selalu mengetahui perbuatannya. 

“Ada baiknya orang tua mengambil hikmah dari pendidikan Luqman kepada anak-anaknya”

Penjelasan yang Bisa Dimengerti
Beri penjelasan ringan sebatas kemampuan anak, mengapa suatu hal diperintahkan sedang hal yang lain dilarang.
Jangan sekali-kali memberi keterangan dusta dalam hal ini. 

Apabila anak dilarang terus menerus memecahkan piring, beri penjelasan. Misalnya, kita akan kehabisan piring sehingga harus makan memakai alas daun.
Ini lebih baik daipada dusta seperti, hantu senang mengganggu anak yang suka memecahkan piring." 

Beri penjelasan sesuai kemampuan anak

Sebatas Kemampuan
Perintah yang di luar kesanggupan dari kemampuan anak boleh jadi akan menyebabkan krisis syaraf (neurotic) dan buruk perangai.

Sebuah perkataan penuh dengan hikmah bisa kita ambil sebagai nasihat buat kita,
 "Jika engkau ingin ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi."
Sebaiknya ketika memberi perintah kepada anak, dilakukan secara bertahap, dan jangan menuntut pelaksanaan seketika itu juga.

Perintah orang tua kepada anak berusia 8 tahun untuk senantiasa shalat lima waktu ke masjid, dan pergi mengaji setiap usai Maghrib, dengan diasuh seorang ustadz yang berperangai keras dan suka memukul, tentu tidak sesuai dengan kebutuhan psikologis anak yang di usia itu sedang senang-senangnya bermain.

Jika orang tua memaksakan kehendaknya, bisa jadi anak menurut, dengan resiko justru menumbuhkan kebencian dan antipatinya terhadap Islam, atau anak membangkang dengan cara berbohong dan mengembangkan perangai buruk lainnya. 

Untuk mengetahui sampai dimana batas kemampuan anak sesuai perkembangan usianya, memerlukan pengetahuan tersendiri. Sebaiknya, orang tua memahami perkembangan anak ini. Setidaknya menyimpan buku pedomannya, atau rutin menanyakan hal tersebut kepada para ahli. 

Agar Anak Patuh pada Orang tua

Kemarahan Anak
Sesungguhnya, sikap suka membangkang dan marah anak-anak merupakan tiruan dari sikap orang tuanya.

Ayah yang suka marah hanya karena sebab-sebab sepele, atau mendidik anak terlalu ketat untuk tunduk secara buta kepadanya adalah kebiasaan buruk orang tua pada umumnya.

Ketika mendidik anak dengan memperlakuanya terlalu keras akan diartikan sebagai tindakan menyepelekan oleh anak. Hal ini akan memiu kemarahan anak.  Kemarahan anak bisa diwujudkan melalui pembangkangan dan pemberontakan.
Tetapi bisa juga diwujudkan dalam bentuk kemarahan terselubung, dimana mereka tetap menampakkan kepatuhan dan perangai baik, namun kemarahan yang mereka simpan bisa rneledak sewaktuwaktu, disaat yang tidak menguntungkan bagi orang tua. 

Jangan Bertentangan
Gharizah atau naluri adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang mendorongnya untuk melakukan beberapa pekerjaan tanpa berlatih terlebih dahulu. 

Janganlah orang tua melarang anak bermain, atau membongkar sesuatu yang menjadi kesukaan anak, selama hal itu baik. Untuk merubah apa yang sudah menjadi kebiasaan anak, sebaiknya disampaikan dengan lembut dan perubahan dilakukan secara bertahap.
Jika kebiasaan anak kita hapus seketika, maka tangisan adan amarah yang akan muncul.

Lebih baik “nasihat keras”  itu diarahkan sedemikian rupa sehingga anak bisa mengatur dirinya sendiri.
Misalkan diberi perintah,
 "Maghrib hari ini pukul setengah enam. Sekarang sudah pukul lima, terserah kau kapan akan berhenti bermain, yang penting saat adzan nanti kau sudah mandi." 

Dalam ungkapan itu tidak melarang anak bermain. juga. tidak melanggar kebiasaan mereka bermain di sore hari. Tetapi permberian “masa terbatas”  agar anak dapat mengatur jadwal kegiatannya sendiri akan sangat menolong untuk melatih anak disiplin waktu. Selain itu mereka merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte begini dan begitu.    

Ancaman yang Salah
Kesalahan yang banyak dilakukan orang tua adalah memberi ancaman kepada anak dengan sesuatu yang seharusnya berguna baginya. Itu dilakukan hanya karena menginginkan anaknya segera memenuhi perintah mereka. 

Misalkan menakut-nakuti anak dengan polisi, suntikan, dan sebagainya. Ketakutan yang tercipta pada bayangan si anak akan sulit dihilangkan, akibatnya hal-hal yang berguna itu akan ia takuti sampai mereka dewasa.  

Tidak Dusta
Aisyah ra menceritakan sebuah kisah, ketika Rasulullah saw bertemu dengan seorang wanita yang sedang membujuk anaknya dengan berkata,
"Kemarilah nak, nanti akan aku berikan kurma kepadamu."
Mendengar bujukan tersebut Rasulullah pun mengingatkan  kepada si wanita, "Apakah benar engkau akan memberikan kurma kepada anak kecil itu ? jika tidak, cukuplah itu akan tercatat hal itu sebagai dusta bagimu." 

Sayangnya, kejadian yang dikhawatirkan Rasulullah tersebut sebenarnya banyak pula terjadi di sekitar orang tua sekarang.
Kebanyakan ibu membujuk anak-anaknya agar mau patuh, dengan iming-iming akan dibelikan es, permen atau mainan. Tetapi setelah anak mau mematuhi keinginan orang tua, maka janji pun dibatalkan secara sepihak.
Tentu saja dengan beragam alasan yang dikemukakan orang tua. Kalau awalnya anak bisa menjadi patuh karena belum tahu, sebaliknya setelah terbiasa dibohongi, akan kehilangan kepercayaan terhadap orang tuanya, dan ini akan memberikan akibat yang berbahaya nantinya. 

Istiqamah
Penting untuk bisa konsisten atau beristiqomah dalam menetapkan aturan, dan tidak cepat mengalah menghadapi rengek dan tangis anak .

Usahakan tidak meladeni kemauan anak selama tak ada alasan yang bisa ditolerir. Lama kelamaan anak akan sadar bahwa ia tak bisa menggunakan senjata tangis untuk merayu ibunya. Tetapi ia harus berusaha terlebih dahulu mengerjakan apa yang diperintahkan. 

Keistiqomahan mendidik anak

Jangan pula menerapkan perubahan aturan tanpa pertimbangan matang. Misalnya suatu saat orang tua melarang anak berbuat sesuatu hal, tetapi di lain waktu mengabaikan kembali larangan yang sama.
Apalagi memberikan hadiah di suatu saat tetapi di saat lain memberikan hukuman untuk sesuatu hal yang sama. Hal ini dapat menyebabkan anak mempunyai jiwa tegang penuh kebimbangan, dan dapat melunturkan rasa kepercayaan terhadap kedua orang tuanya.


---------------------------------------------------------------------------------------------------
Sangat Dianjurkan anda membaca rangkaian mendidik anak dengan benar, karena ini hanya salah satu bagian (ke 5). Baca berulangkali agar meresap kemudian diterapkan. 
Tidak perlu langsung membaca semua rangkaian, cukup membaca 2-3 bagian dalam sehari.

Berikut rangkaian lainya:

Agar perilaku anak semakin baik


Jangan Lupa Share Ya.. Supaya Semakin Banyak Orang Tua Berbahagia.





EmoticonEmoticon