Cara Mendidik Anak Agar Cerdas, Pintar, Mandiri, dan Sukses dimasa Depan.

agar anak cerdas, mandiri , dan sukses


Karena pikirannya masih sempit, anak sering mengemukakan alasan yang konyol. Semua itu harus tetap dihargai, untuk tumbuhkan percaya dirinya.  
Suatu pagi menjelang berangkat sekolah, Rifka as berteriak memanggil ibu di dapur.
"Bu, dimana kaos kakiku? 
"Selalu ribut kaos kaki setiap hari. Kenapa tidak kamu letakkan di tempatnya?" 
"Huuh, orang lupa masak enggak boleh." jawab Rifka ketus.

Bagi ibu, pertanyaan anaknya itu sangat menjengkelkan. Bukankah dia sendiri yang meletakkan kaos kakinya kemarin?
"Sudah beribu kali diingatkan ibu, kalau melepas kaus kaki jangan sembarangan. Langsung disimpan, atau langsung dibawa ke tempat cucian. Selalu saja bingung mencarinya di pagi hari." 

Sayang, nampaknya ibu gagal memahami bahwa saat itu pikiran Rifka sedang kalut karena dikejar waktu untuk berangkat sekolah. Tidak tepat saatnya ibu memberikan jawaban dengan nada menyerang dan memvonis.
Apalagi ditambahkan sederet kalimat nasehat agar selalu meletakkan kaus kaki di tempatnya, mempersiapkannya di malam hari, tidak membuatnya terlalu kotor, hingga nasehat untuk tidak bangun terlambat, hanya membuat anak semakin jengkel saja. 

Lebih baik memberi jawaban penuh pengertian, minimal menunjukan simpati atas masalah yang dihadapi anak. Misalkan dengan memberikan tanggapan,
"Dua hari lalu kaos kakimu yang hilang ketemu di bawah meja belajar. Carilah sekarang, barangkali ada di sana."

Walaupun ibu tak bisa menolong mencarikan kaos kaki, jawaban seperti ini membuat anak lebih tenang karena ia merasa dipahami dan tidak disalahkan begitu saja. Berikutnya, anak diberi motivasi untuk menyelesaikan sendiri masalahnya. 
Untuk bisa menghasilkan komunikasi yang sukses antara dua generasi ini, memang dibutuhkan pengertian dan pengorbanan besar dari para orang tua. Orang tua sebaiknya banyak berkorban dan mengalah agar dapat memahami jalan pikiran anaknya. Hal ini penting, karena mengharapkan anak agar mau mengerti jalan pikiran orang dewasa adalah mustahil.
 
“Karena pikirannya masih sempit, anak sering mengemukakan alasan yang konyol. Semua itu harus tetap dihargai, untuk tumbuhkan percaya dirinya”

Sebuah komunikasi yang gagal, terjadi ketika si bungsu Dimas yang berumur 4 tahun berlari kecil ke ayahnya, sambil membawa buku gambar dan satu set pensil warna.
"Yah, Ayah. Coba apa yang Dimas gambar," katanya bersemangat.
"Ooo pesawat, bagus," kata ayah tanpa ekspresi, sambil tetap meneruskan keasyikan membaca berita di koran.

Merasa tak puas, Dimas mengguncang tangan ayahnya.  "Yah, Dimas mau menggambar piring terbang seperti di film kemarin." 
"Ya, gambarlah." 
"Nggak bisa Yah, gambarkan ayo!" 
"Sebentar Mas, nanti saja ya," kata ayah masih terus membaca koran. 
" Sekarang, Yah. Dimas mau tunjukan gambar ini kepada Yono," rengek Dimas 

Nah, bagaimana jika anda menjadi ayah Dimas? Memang menjengkelkan menuruti rengekan Dimas. Berita tentang bom yang meledak di swalayan belum tuntas dibaca. Beritanya masih panjang dan perlu waktu lama lagi untuk menyelesaikannya. 
Jika ayah bersikeras tetap membaca koran, apalagi sambil mengeluarkan kata-kata luapan kejengkelan, Dimas tentu menjadi sangat kecewa. Kata-kata kasar ayah akan sulit hilang dari ingatannya, padahal ia merasa tak pernah melakukan satu kesalahan pun.  Bersikap keras dan berkata kasar kepada anak sama sekali tidak bijaksana.

Rasulullah saw mencontohkan kepada ummatnya ketika beliau berlaku santun dan lembut kepada setiap anak yang ditemuinya, apalagi kepada cucu-cucunya. Beliau mencontohkan bahwa mendidik anak yang terbaik adalah melalui cinta dan kasih sayang. 
Memaki, mengumpat, berkata kasar, dan menghina anak merupakan kejahatan orang tua yang sering tidak disadari. Banyak akibat buruk yang ditimbulkannya, tetapi orang tua tidak mau mempedulikannya. Masih banyak orang tua yang berkata, "kamu bodoh" ketika anaknya tidak mengerjakan PR.  Membantu anak belajar, tentu tidak dengan mengolok kesalahan-kesalahannya, apalagi memakinya.

Anak-anak belum tentu melakukan pekerjaanya dengan penuh kesadaran. Kalau satu kesalahan saja sudah mendapatkan makian, semangatnya tentu padam. Gairahnya untuk belajar dan rasa ingin tahunya menjadi terhenti oleh kekecewaan dan kekesalan. 

Orang tua bijak akan memilih kata yang santun ketika menegur anaknya. Sungguh tidak sulit untuk mengatakan,
"Ibu sudah memberi uang saku untukmu kan? Uang dimeja itu punya ayah, harus minta ijin dulu kalau kau ingin memakainya."

Bandingkan dengan jika ibu mengatakannya dengan kasar,
" Kau mengambil uang di meja, ya? Dasar pencuri ! Itu kan uang  ayah?"

Kesannya jelas beda. Enak buat orang tua jika tak harus mengatakannya dengan amarah, dan nyaman pula di telinga anak. Mereka merasa dihargai pendapatnya. jika pada kesempatan lain si ibu mengingatkan kesalahannya, mereka tak akan buru- buru menolaknya.  

Hargai, Walau Sekonyol Apapun
Kadang pembicaraan orang tua dengan anak menjadi arena adu argumentasi. Masing-masing bersitegang dengan pendapatnya sendiri. Tak ada yang mau mengalah.
Orang tua sibuk melontarkan nasehat, perintah, dan dokma. Di sisi lain, anak-anak tak mau kalah, sibuk membantah, mendebat, dan bergurnam. Kalaupun anak terpaksa mengikuti kemauan orang tuanya, ia melakukannya dengan memendam kemarahan. 

Dialog antara Kukuh dengan ibunya, memberikan gambaran tentang hal tersebut 
"Ah, ibu, lima ratus saja kok," rengek Kukuh. 
"Lima ratus itu banyak. lbu tak punya uang," sahut ibu. 
"Bonar anak tukang becak saja uang jajannya seribu, Bu!" 
"Heh buat apa sih jajan?!" 
"Kan enak, ketimbang nganggur waktu istirahat." 
"Jajan di sekolah itu kotor, tahu. Nggak enak. Bikin sakit perut!"
Sergah ibu menutup pembicaraan dengan jengkel.
"Sudah ! Sana berangkat !" 

Mengapa ibu tidak berusaha mengerti perasaan Kukuh, anak kelas satu SD itu? Bukankah benar yang dikatakan Kukuh bahwa jajan bersama teman-taman itu enak?

“Salah satu seni berbicara dengan anak: Memahami dan mengerti tentang pendapatnya, sehingga membesarkan hatinya. kemudian barulah orang tua mengingatkan akibat- akibat buruk yang bisa terjadi. Terakhir, beri motivasi anak dengan hal lain yang sekiranya lebih menarik perhatian”


Begitu banyak macam jajanan yang dijual di halaman sekolah, siapa tidak ngiler? Bagi anak-anak, tak peduli kotor atau tidak, yang penting senang.

Andai ibu mau menghargai pendapat Kukuh, dan berkata dengan lebih lemah lembut,
"Iya, jajan itu memang enak. Bonar, Nanang dan Edi, hampir tak pernah sembuh dari pilek, juga mencret, Itu karena mereka banyak jajan di tempat yang kotor. Kalau kau mau makan enak, di rumah saia. Bukan di sekolah. Uang saku ditabung untuk membeli tas baru kan lebih enak."

Peristiwa lain, Kukuh asyik nonton film di TV walau adzan Maghrib sudah lama lewat.

" Sebentar bu, filmnya bagus nih," sahut Kukuh ketika ibunya menyuruh shalat.
"Apanya yang bagus? jelek begitu kok. Ayo matikan TVnya!".

Mendengar hardikan ibunya, Kukuh yang baru mengikuti separoh cerita betul-betul kecewa saat ia harus mematikan TV.  Hasilnya akan berbeda jika ibu mencoba berkata seraya menunjukan sikap pengertiannya pada putranya.
"Iya filmnya bagus. Tapi inikan waktu shalat Maghrib. Kalau kau tidak raiin shalat, do'amu nanti tidak dikabulkan Allah. Film di TV kan masih banyak yang bagus." 

Dengan berkata begitu, ibu sedang berusaha membujuk Kukuh agar ia mau mematikan pesawat TV dengan inisiatifnya sendiri. Ini memang salah satu seni berbicara dengan anak. Memahami dan mengerti tentang pendapatnya, sehingga membesarkan hatinya. kemudian barulah orang tua mengingatkan akibat- akibat buruk yang bisa terjadi. Terakhir, beri motivasi anak dengan hal lain yang sekiranya lebih menarik perhatian. 

Bagimana Menghargai?

“Diluar dugaan kebanyakan orang tua, ternyata anak memiliki kemampuan untuk bisa menyelesaikan banyak masalah”

Untuk bisa mengerti, memahami dan selanjutnya menghargai pikiran dan pendapat anak, orang tua harus mampu melakukan dua hal.
Pertama, memahami fase tumbuh kembang anak sesuai usia dan pengaruh lingkungan sekitar. Dengan pengetahuan ini, orang tua bisa mengetahui, misalnya, tentang mengapa anak memiliki naluri untuk ingin berbohong. Sampai batas usia berapa sebuah kebohongan masih dianggap wajar.

Dengan mengetahui fase ini, orang tua pun memahami kapasitas perkembangan otak anak yang masih 'konyol' cara kerjanya. Berbekal pengetahuan ini, orang tua bisa bersikap lebih dewasa dan arif dalam memberikan respon. Tidak terpancing oleh kekonyolan sikap anak yang tentu saja kekanak-kanakan. 

Kedua, menimbulkan empati . Dengan cara, orang tua meletakkan dirinya seakan dalam posisi yang dihadapi anak yang sedang mengalarni masalah. Dengan cara ini, orang tua akan lebih mudah untuk mengerti dan memahami kondisi kejiwaan anak. 

Untuk bisa memahami perasaan Rifka yang sedang kehilangan kaus kaki, misalnya, ibu harus bisa membayangkan jika dirinya yang kehilangan kaus kaki, sementara sedang dikejar waktu untuk segera berangkat. Bagaimana perasaannya ? Seberapa tegang dan bingung hatinya!

Begitu pula ketika memahami Kukuh yang memaksa diberikan uang jajan lebih banyak, ibu harus bisa membayangkan ketika dirinya yang harus menghadapi teman-teman di sekolah yang senantiasa bebas jajan dengan banyak uang . Betapa menariknya puluhan macam makanan dan snack yang dijual di sekolah. Perut lapar, badan lelah, cuaca panas, ditambah lagi iming-iming dari teman yang asyik-asyiknya jajan, bukankah sangat menyedihkan jika hanya bisa menelan air liur? 

Rasulullah saw memberikan teladan, bagaimana beliau begitu menghargai pendapat seorang anak, walaupun untuk itu beliau terpaksa harus menomorduakan para sahabat utamanya.

Suatu ketika, beliau sedang berada di sebuah majelis, dengan para sahabat berposisi duduk melingkar . Tibalah saatnya mengedarkan air minum, yang dimulai dari diri beliau. Sebagaimana lazimnya adab majelis, maka urutan berikutnya adalah orang yang ada di sisi kanan.
Saat itu yang ada di kanan beliau adalah seorang anak kecil. Saat itu, timbul keinginan beliau untuk menghormati seorang sahabat utama yang juga sedang berada dalam majelis itu. Beliau berkeinginan untuk mendahulukan sahabat tersebut demi menghormati kehadirannya. 
Adalah hal yang tak terlalu sulit rasanya untuk sedikit menyimpang adab, demi memberikan sebuah penghormatan, dengan melewatkan giliran anak kecil di samping Rasulullah saw sebagai giliran kedua yang minum setelah beliau.
Bukankah hanya seorang anak kecil, yang tak memiliki banyak kepentingan di majelis itu, yang mungkin kehadirannya pun hanya tak disengaja, sekedar diajak oleh ayahnya yang kebetulan juga mengikuti majelis tersebut? 

Tetapi, tidak demikian jalan pikiran Rasulullah. Ternyata beliau tetap memandang kehadiran si anak begitu berarti, sehingga perlu minta ijin terlebih dahulu kepada si anak, agar mau menunda gilirannya, dan diserahkan terlebih dahulu giliran tersebut kepada orang lain.
Dan ketika ternyata anak tersebut menolak permintaan Rasulullah saw, tetap mempertahankan giliran minumnya setelah beliau, ternyata pribadi Rasulullah pun bersedia menghargai pendapat tersebut. Rasulullah saw mengenyampingkan keinginannya sendiri, demi menghormati pendapat seorang anak kecil yang mempertahankan hak-haknya, walau dalam hal yang teramat sepele.

Membiarkan Anak Memutuskan Sendiri
Diluar dugaan kebanyakan orang tua, ternyata anak memiliki kemampuan untuk bisa menyelesaikan banyak masalah. 
Nizar mengayuh sepeda roda duanya dengan kencang, padahal ia belum mahir benar karena ia baru bisa mengendarainya. Tetapi kali ini rupanya Nizar ingin menunjukkan kepandaian barunya itu kepada teman-temannya yang bergerombol di depan rumahnya. 
Ternyata Nizar terjatuh setelah roda sepedanya terpeleset. lbu Yang sejak tadi mengawasi putranya dari teras rumah, berusaha tenang. Dilihatnya Nizar merintih kesakitan sambil memegangi lututnya Yang terluka tertindih sepeda. Derai tawa teman-teman Yang mengejeknya membuat Nizar tak mampu menahan tangis. 
lbu masih diam tak bergerak hingga dilihatnya Nizar berdiri dan berjalan sempoyongan menuju rumah sambil terus menangis. Ketika Nizar sudah berdiri di depannya, barulah ibu bertanya dengan tenang tanpa ekspresi wajah yang menunjukkan kekhawatiran.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
tanya ibu dengan lembut Nizar masih terus menangis sambil menunjukkan lututnya yang berdarah. lbu kembali berkomentar ringan,

"Oh, hanya berdarah sedikit. Cuci dulu agar bersih, nanti ibu beri obat"  Selanjutnya tangan ibu membelai rambut Nizar seraya bertanya lembut,
"kamu masih ingin ngebut lagi?" 

Nizar tertunduk dan berkata lirih, "tidak bu” 
lbu meneruskan, "apa namanya kalau kita tidak patuh pada nasehat ibu?" 
"Nakal,"  Nizar menjawab sambil menunduk.
"benar, tetapi kamu tidak nakal. Kamu anak shaleh. Sekarang segera cuci lututmu," tutur ibu sambil tersenyum dan merangkul Nizar. 

Bagaimana penilaian anda tentang ibu Nizar ini? Di awal peristiwa ia terkesan tidak punya belas kasihan. Keras dalam mendidik anak. Apakah tidak semestinya ibu yang menyaksikan anaknya terjatuh dan terluka segera datang menolong? Mengapa ibu tidak membujuk Nizar untuk diam dari tangisnya dan menggendongnya? Terkesan tak peduli ketika ibu menyuruh Nizar mencuci sendiri lukanya. 

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pulalah yang muncul pada diri Nizar setiap ia menemui permasalahan. Pernah sekali waktu ibu sedang sibuk menyetrika baju, sementara Nizar asyik bermain mobil-mobilan yang bisa di gerakkan maju mundur hanya dengan memencet tombol. Kecepatan mobil-mobilan makin berkurang, tanda baterainya mulai habis. Tak lama kemudian mainan itu sudah benar-benar tak bergerak lagi. Nizar yang sedang asyik dengan hayalannya menjadi jengkel karena tidak bisa meneruskan permainannya. 
Dengan setengah merajuk Nizar merengek,
"Bu ... perbaiki mainan Nizar dong... tidak bisa. jalan."

lbu menoleh kepada anaknya tanpa menghentikan pekerjaannya dan berkata, "Oh, batereinya habis, ya harus dibelikan dulu yang baru, "
Nizar pun cepat menyahut, "ya, ayo belikan bu... belikan ... sekarang..."

lbu menyahut dengan tenang, "di dekat sini tidak ada toko yang menjual baterai. Sementara, sekarang beri tali saja mobilmu itu supaya kau bisa menariknya kemana-mana".
Nizar menyahut tak sabar, "ya, ya pakai tali. Ayo bu pasang talinya !"
masih tetap terus berkerja ibu berkata, "Ibu masih sibuk. Kau bisa cari sendiri tali itu di dalam laci bufet yang paling bawah. Ayo cari sendiri anak pandai..."

Nizar bangkit mencari tali yang di maksud dan kembali merengek setelah menemukannya, " Ayo pasangkan talinya bu..."
 sekali lagi ibu hanya menoleh dan berkata, "coba dilihat dulu, dimana enaknya tali itu akan kau pasang,"

Nizar membalik mainannya mencari-cari tempat sangkutan untuk dikaitkan tali. Sebentar kemudian ia berteriak gembira "nah ini Bu ... diantara dua roda depan ini!"
Ibu tersenyum dan memberi semangat anaknya untuk terus berusaha, “nah, masukkan perlahan-lahan ujung tali ke lubang sangkutan itu ... ya benar begitu. Kemudian simpulkan dan potong sisa tali yang terIalu panjang."
Nizar mengikuti petunjuk ibunya dan akhirnya ia pun berhasil memasang tali tersebut sehingga ia bisa menarik mobil-mobilan itu kemana ia suka.

lbu Nizar telah melakukan sesuatu yang amat berharga bagi anaknya, juga buat dirinya sendiri. la telah mendidik anaknya menjadi dirinya sendiri, sehingga, si anak kelak akan selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri tanpa memerlukan orang lain.

Apakah yang dimaksud mendidik anak menjadi dirinya sendiri? Uraian di bawah ini akan mengulasnya lebih dalam. 

Setiap orang tua mencintai anaknya, tetapi belum tentu bisa mendidik mereka. Cara orang tua menunjukkan rasa kasih sayangnya itu kadang-kadang keliru. Seperti juga anggapan banyak orang tentang peristiwa yang dialami Nizar di atas tadi. Menurut anggapan banyak orang, jika si anak terjatuh, ibu harus cepat menolong, jangan sampai anak terlalu lama menangis.
Ayah dan ibu merasa kasihan melihat anak tercintanya itu menangis, sehingga segera membujuknya agar diam, kalau perlu memberinya hadiah permen dan coklat.  Cara menunjukkan kasih sayang seperti itu jelas keliru. Si anak bukannya terdidik untuk dewasa bahkan semakin cengeng dan merepotkan.
Bukankah anak merasa senang karena ia mendapat hadiah setelah menangis? Hadiahnya adalah perhatian dari orang tua dan ditambah permen. Maka hampir dapat dipastikan, seterusnya si anak akan kembali menangis bila menemui sedikit saja masalah, kemudian menuggu pertolongan dari ayah ibunya.

Apabila ini sudah menjadi kebiasaan anak, bukan main berat tugas ayah ibu yang harus melayani. Dalam satu hari saja, bukannya tidak mungkin ada begitu banyak masalah yang dialami seorang anak. Belum lagi yang dialami kakak dan adiknya.
Jika setiap saat selalu bergantung kepada bantuan orang lain, maka tugas ibu hanyalah satu, bergulat dengan tangis anak dari waktu ke waktu. 

“Anak perlu dilatih menyelesaikan permasalahannya sendiri, sejauh mereka mampu”

Sepintas orang akan melihat betapa sabarnya ibu seperti ini. Dia telah mencurahkan seluruh waktu, pikiran dan tenaganya untuk anak-anaknya, sehingga tak ada tersisa untuk dirinya sendiri.
Sayang, karena ternyata sebenarnya bantuan dari orang tua yang terlalu berlebihan seperti ini justru tidak membuat anak berkembang sebagaimana mestinya. Mereka menjadikan anaknya selalu bergantung kepada bantuan orang lain. Mereka tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, sekecil apapun masalah itu. 

Masalah anak
Anak perlu dilatih menyelesaikan permasalahannya sendiri, sejauh mereka mampu.
Misalnya seperti mobil Nizar yang tak lagi bisa bergerak karena kehabisan baterai, anak yang menangis karena uangnya terjatuh di selokan, yang terpeleset dan tertindih sepedanya, yang kehilangan buku ceritanya, atau yang berkelahi dengan adiknya.

Inilah masalah anak-anak sehari-hari, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Sayang, banyak orang tua yang mudah tergoda untuk memasuki wilayah ini, dengan berbagai alasan, misalnya kasihan, atau karena menganggap anak-anak mereka belum mampu memecahkan masalahnya sendiri.  Banyak orang tua yang belum percaya pada kemampuan anak-anaknya.
Mereka belum rela melepaskan anaknya untuk menemukan sendiri jalan keluar berbagai masalah anaknya. Padahal Allah swt telah memberikan karunia yang berupa intuisi yang sangat hebat kepada setiap anak, sehingga tidak mustahil jika dengan intuisinya mereka dapat memecahkan berbagai masalahnya sendiri. Justru melalui jalan ini mereka dapat mengasah intuisinya secara lebih tajam. 
Kemampuan itu sering dilupakan orang tua, seperti kemampuan anak menyimpan dalam memori otaknya tentang segala hal yang ia lihat, kemampuan anak untuk menerka suasana hati orang yang berbicara dengannya, dan sebagainya.

Satu diantara yang tak banyak diketahui orang tua adalah kemampuan anak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Bahwa sebenarnya setiap anak punya kecenderungan untuk memilih hal yang positif bagi dirinya sendiri, sesuai input yang dimasukkan ke dalam memori alam pikirannya selama ini. 
Untuk bisa memahami bagaimana cara alam pikiran manusia bekerja, Para ahli yakin jika alam pikiran manusia itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu alam pikiran sadar dan alam pikiran bawah sadar. Allah Swt sebagai perancangnya telah memberikan kelebihan istimewa pada alam bawah sadar manusia, tanpa ada batasnya dan tanpa ada yang terlewat.

Bekerja tanpa ada saringan, ia akan merekam apa saja data yang masuk ke dalamnya. Lantas menyimpannya dengan amat rapi, tanpa ada yang hilang.  Bagian inilah yang sesungguhnya menjadi dasar pemikiran kita. Manusia punya kecenderungan untuk mempercayai apa saja yang masuk ke alam bawah sadar ini.
Seseorang yang pada masa kecilnya mendengar dongeng yang dibacakan cenderung mempercayainya walaupun mereka tahu bahwa cerita itu fiktif jika orang tua lebih banyak memberi kesempatan anak untuk mengambil keputusan atas masalahnya sendiri, ia akan terlatih pada masa dewasanya nanti.
Setiap anak mempunyai kecenderungan untuk mengikuti alam bawah sadarnya, tanpa disadari. Itu sebabnya sangat penting bagi orang tua untuk selalu memberi input positif kepada penglihatan dan pendengaran anak, juga agar data yang masuk di bawah sadarnya terseleksi dengan baik.  Setelah itu orang tua boleh lebih mempercayai anaknya, bahwa kini mereka sudah bisa memilih yang positif untuk dirinya sendiri, sesuai dengan data positif yang terus-menerus dimasukkan, baik lewat nasihat, cerita, maupun pemberian motivasi oleh orang tua. 
Kebanyakan orang tua yang ikut campur tangan menyelesaikan masalah anaknya dengan menyodorkan penyelesaian masalah yang sudah tersusun rapi, akhirnya akan menemukan anak tumbuh bergantung pada bantuan orang tua dan gagal mengembangkan kemampuan mereka sendiri. Mereka akan tetap datang kepada kedua orang tuanya setiap menemukan permasalahan baru.

Jangan lupa share ya. Supaya Banyak orang tua yang bahagia di masa depan...


EmoticonEmoticon