Kesalahan Orang Tua Yang Membuat Anak Jadi Bandel

Kesalahan orang Tua dalam mendidik anak


Orang Tua Bukan Polisi
Orang tua bukan polisi yang hanya bertugas mencari kesalahan orang dan menghukumnya. Bukankah lebih baik mencari kebaikan anak dan memberinya pujian?  

Menjadi Polisi yang Menakutkan

 Menjadi "polisi" bagi anak merupakan tindakan salah tapi kaprah. Salah karena tindakan itu sudah terlambat, anak sudah melakukan kesalahan baru diributkan. Kaprah karena tindakan ini paling sering dilakukan oleh kebanyakan orang tua, baik ibu maupun ayah.

Mereka baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak, bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. 


Sebelum membuat aturan, orang tua hendaknya mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, jangan diukur dengan ukuran orang dewasa.

Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan dunia orang dewasa. Karenanya ketika menetapkan, apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan sekali-kali menggunakan tolok ukur orang dewasa. Orang tua bukan polisi. 


  Positif dan Negatif tak Seimbang

Para polisi ini, adalah orang tua yang lupa tidak memberikan perhatian positif ketika anaknya berbuat baik. Tidak memberi pujian, ciuman, senyuman, anggukan kepala, bahkan menoleh pun tidak, ketika anaknya mandi tepat waktu, ketika sarapannya habis tak bersisa, ketika membuang bungkus permen di tempat sampah, atau ketika sesekali menutup pintu dengan pelan. 

Yang mereka perhatikan hanya ketika anak membanting pintu, menumpahkan minuman di lantai, mengotori dinding dengan kakinya, terlambat mandi, lupa membereskan mainan, membiarkan sikat gigi kotor di bak mandi, handuk yang tak tergantung di tempatnya, dan masih berderet-deret lagi kesalahan yang terlihat.

Kesemuanya ini segera  disambut dengan perhatian negatif, berupa teguran, kata-kata keras, ancaman, perintah, hingga hukuman.  Yang terjadi kemudian adalah ketidakseimbangan antara banyaknya perhatian positif dengan negatif. Terlalu banyak perhatian negatif, tidak sebanding dengan perhatian positif. 


Menjadi Penentang, Penggoda, atau Selalu Terlambat?

 Ada dua kemungkinan reaksi anak dalam menghadapi orang tua yang berperan sebagai polisi tadi. Kemungkinan pertama, anak-anak akan belajar untuk selalu menjadi penentang, sebisa mungkin mereka mengelakkan dari kekuasaan orang tua. 

Dari kelompok penentang ini dapat digolongkan menjadi 3 tipe.


Pertama, tipe penentang aktif.

Mereka menjadi keras kepala, suka membantah dan membangkang apa saia kehendak orang tua. Mereka marah karena orang tua tak menghargai dirinya sebagai manusia. Untuk melawan jelas tak bisa, karena sang "Polisi" punya kekuatan besar. Maka jalan yang dipilihnya adalah menyakiti hatinya.

Mereka akan senang jika orang tua menjadi jengkel dan marah karena ulahnya, semakin bertambah emosi orang tua, semakin senang mereka, bahkan rela dihukum asal bisa membuat orang tua jengkel.  Bisa jadi anak-anak itu memang menangis kesakitan sewaktu hukuman ditimpakan kepadanya.

Tapi percaya atau tidak, sebenarnya ada perasaan puas melihat "Polisi" jengkel dan kalang kabut. Kalaupun mereka tak kuat menahan hukuman, mereka akan mencari cara lain untuk membuat marah orang tua! 


Kedua, tipe pemberontak dengan cara halus.

Sadar bahwa tubuh kecilnya tak mampu menandingi kekuatan "polisi" yang tak lain orang tuanya sendiri, mereka memilih sikap diam, tapi tidak juga mengikuti perintah. Seperti saat ibu mengajar Udin untuk selalu buang air di WC.

Gaya ibu yang main perintah seperti polisi membuat Udin makin senang buang air besar di celana. 

Manakala ibu mengetahuinya, meledak-ledak kemarahannya. lbu menjadi semakin ketat melatih Udin duduk di WC, Udin pun belagak patuh.

Tetapi biar berpuluh-puluh menit berlalu, Udin tak juga mengeluarkan hajat. lbu akhirnya menyerah, Udin diizinkan keluar kamar mandi dengan pertimbangan memang belum waktunya melepas hajat' tetapi ternyata 5 menit kemudian Udin kembali buang air besar di celana. 


"Orang tua bukan polisi yang hanya bertugas mencari kesalahan orang dan menghukumnya. Bukankah lebih baik mencari kebaikan anak dan memberinya pujian?"


Ketiga, tipe selalu terlambat.

Anak-anak seperti itu baru mau mengerjakan suatu perintah setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, dan mengomel karena kemalasannya. Untuk menghabiskan semangkuk nasi saja mereka butuh waktu satu jam, itupun harus diiringi omelan ibunya secara terus menerus. lbu harus pula mengikuti kemana saja perginya si anak untuk menyuapinya.

Mereka akan pergi mandi beberapa menit sebelum saat Maghrib, setelah ibunya capai teriak-teriak menyuruh mandi semenjak usai Ashar. 

Mereka juga seringkali tergopoh-gopoh saat berangkat sekolah, bahkan mereka terlambat. Bukan karena banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan tetapi mereka sengaja terlambat. Kalaupun bangun pagi beberapa menit lebih awal pun masih tetap terlambat.

Karena mereka sudah terbiasa menunda-nunda pekerjaan dan baru kelabakan saat jam berangkat telah tiba.







EmoticonEmoticon