Benarkah kopi mengganggu kesehatan?

Dampak kopi bagi kesehatan

Benarkah kopi mengganggu kesehatan?
Makanan dan minuman berkafein telah menjadi makanan pokok pada kebanyakan makanan saat ini.
Kopi merupakan minuman berkaffein yang paling populer, dengan 80% orang dewasa Amerika meminumnya (1, 2). Di Indonesia, jumlahnya tidak jauh dari itu.
Kafein adalah stimulan alami. Namun, ada yang mengklaim kaffein mengganggu penyerapan nutrisi tertentu, seperti zat besi.
Benarkah demikian? Artikel ini memberikan penjelasan bagi anda dengan lengkap. Selamat membaca.
Kopi dan Kafein Bisa Menghambat Penyerapan Besi
Beberapa penelitian menemukan bahwa kopi dan minuman berkafein lainnya dapat mengurangi penyerapan zat besi.
Satu studi menemukan bahwa minum secangkir kopi dengan makan hamburger mengurangi penyerapan zat besi sebesar 39%. Demikian juga minum teh, bisa menghambat penyerapan zat besi sebesar 64% (3).
Studi lain menemukan bahwa minum secangkir kopi instan dengan makanan roti mengurangi penyerapan zat besi sebesar 60-90% (4).
Terlebih lagi, semakin kuat kopi atau teh, semakin sedikit zat besi yang bisa diserap tubuh (3).
Belum diketahui secara pasti mengapa kopi dan teh menghambat penyerapan zat besi. Diduga ada senyawa lain selain kaffein yang berperan.
Satu penelitian menemukan bahwa kafein itu sendiri hanya mengikat sekitar 6% zat besi dari makanan. Ini adalah jumlah yang sangat kecil. Jika pada penelitian lain ditemukan hambatan penyerapan sampai dengan 90% tentu ada hal lain yang belum diketahui (5).
Jika kopi diminum secara teratur, maka ada kemungkinan, akan mengggangu penyimpanan zat besi dalam tubuh kita.
Penelitian besar diantara orang tua menemukan bahwa mereka yang rutin minum kopi satu cangkir setiap minggunya, menunjukkan penyimpanan zat besi yang menurun (6).
Hal yang penting diperhatikan adalah, efek kopi, dan kafein yang menggangu penyerapan zat besi bergantung pada kapan Anda meminum kopi. Zat besi akan terhambat diserap, jika anda minum kopi berdekatan dengan saat anda mengkonsumsi makanan. Jika anda minum kopi satu jam sebelum makan, maka itu tidak mengganggu penyerapan zat besi (7).
Minum kopi dan minuman berkafein lainnya, berdekatan dengan saat makan menurunkan penyerapan zat besi. Agar penyerapan zat besi tidak terganggu, minumah kopi satu jam sebelum makan atau 4 jam sesudah makan.
Zat Lain Yang Mempengaruhi Penyerapan Besi
Kafein bukan satu-satunya zat yang diketahui mengganggu penyerapan zat besi.
Polifenol yang ditemukan dalam kopi dan teh dianggap sebagai penghambat utama penyerapan zat besi.
Polifenol termasuk asam chlorogenic, yang terutama ditemukan pada kopi, coklat, dan beberapa tumbuhan. Selain itu, tanin yang ditemukan dalam teh hitam dan kopi menghambat penyerapan zat besi (4, 8).
Senyawa ini berikatan dengan besi di dalam saluran pencernaan, sehingga lebih sulit untuk diserap (9, 10).
Efek polifenol terhadap penyerapan zat besi bergantung pada seberapa besar kandunganya dalam saluran cerna. Artinya, semakin banyak polifenol dikonsumsi, semakin besar hambatan penyerapan zat besi (9, 11).
Dalam sebuah penelitian, minum minuman yang mengandung 20-50 mg polifenol per porsi mengurangi penyerapan zat besi dari makanan roti sebesar 50-70%. Sementara, minuman yang mengandung 100-400 mg polifenol per porsi mengurangi penyerapan zat besi sebesar 60-90% (4).
Studi lain menemukan bahwa mengkonsumsi 5 mg tannin menghambat penyerapan zat besi sebesar 20%, sementara 25 mg tannin mengurangi sebesar 67% dan 100 mg sampai 88% (9).
Polifenol dalam kopi dan teh menghambat penyerapan zat besi hingga 90%. Semakin banyak polifenol yang Anda konsumsi, semakin besar hambatan penyerapan zat besi.
Jenis Makanan Mempengaruhi Penyerapan Besi
Penyerapan zat besi sangat kompleks dan banyak dipengaruhi oleh faktor makanan.
Sejumlah bukti menunjukkan bahwa, jenis makanan yang anda makan lebih mempengaruhi penyerapan zat besi daripada konsumsi kopi atau minuman berkaffein lainya.
Beberapa jenis makanan mampu meningkatkan penyerapan at besi, sedangkan yang lainya menghambat penyerapan at besi. Selain itu, jenis zat besi yang anda konsumsi juga penting untuk diketahui.
Kandungan besi dalam makanan terbagi menjadi 2 bentuk. Besi heme dan besi non-heme.
Besi non-heme, yang terutama ditemukan pada makanan nabati (tumbuhan), relatif tidak stabil, dan dipengaruhi oleh banyak faktor makanan. Hanya 2-20% besi non-heme yang diserap (10).
Sebaliknya, besi heme, hanya ditemukan pada daging hewan (daging, unggas, dan makanan laut) memiliki tingkat penyerapan yang jauh lebih tinggi yaitu 15-35%. Hal ini karena diserap utuh dan tidak dipengaruhi oleh faktor makanan lain (12).
Dengan demikian, kopi dan minuman berkafein cenderung menghambat penyerapan zat besi non-heme dari makanan nabati namun memiliki efek yang sangat kecil pada besi dari makanan hewani.
Selain itu, vitamin C dan tembaga dalam makanan dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dan mengurangi efek negatif dari kopi dan minuman berkafein pada penyerapan zat besi (13).
Banyak faktor makanan mempengaruhi penyerapan zat besi. Produk kopi dan berkafein dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme yang ditemukan pada makanan nabati (sayuran). Namun, efeknya hanya sedikit pada besi heme yang ditemukan di daging hewan.
Haruskah Anda Mengurangi Asupan Kopi dan Kafein Anda?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kopi dan kafein tidak berhubungan dengan kekurangan zat besi pada orang sehat tanpa risiko kekurangan zat besi (14, 15, 16).
Banyak orang mendapatkan cukup zat besi dari makanan yang mereka makan. Konsumsi vitamin C dan zat besi dari daging, unggas, dan makanan laut dapat membantu mengatasi hambatan zat besi dari minum kopi dan teh (17, 18).
Namun, ini tidak terjadi saat polifenol dikonsumsi pada tingkat yang sangat tinggi (17).
Bagi mereka yang berisiko kekurangan zat besi, konsumsi kopi dan teh yang tinggi juga tidak baik (19). Terlebih orang yang terdeteksi anemia.
Kelompok yang berisiko kekurangan zat besi antara lain: wanita usia subur (terkait menstruasi), bayi dan anak kecil, kurang konsumsi makanan atau diet, seperti vegetarian, dan orang-orang dengan kondisi medis tertentu seperti penyakit radang usus. Pada kelompok ini lebih baik mengurangi konsumsi kopi, teh, dan minuman berkaffein lainya.
Namun, tidak mengapa jika konsumsinya hanya sesekali.
Sebagai gantinya, orang yang berisiko mengalami anemia disarankan untuk mengikuti tip-tip bermanfaat dibawah ini (11, 14, 18):
  • Minum kopi atau teh di sela waktu makan. Tunggu setidaknya satu jam setelah makan sebelum minum kopi atau teh
  • Tingkatkan asupan zat besi melalui daging, unggas atau makanan laut
  • Tingkatkan asupan vitamin C pada waktu makan
  • Konsumsilah makanan dengan zat besi
  • Makan makanan tinggi kalsium dan makanan berserat tinggi seperti biji-bijian.

Ini akan membantu membatasi efek minuman kopi dan minuman berkafein terhadap penyerapan zat besi.
Orang sehat yang tidak berisiko megalami kekurangan at besi tidak perlu membatasi kopi dan kafein. Namun, mereka yang berisiko kekurangan zat besi disarankan untuk menghindari kopi dan kafein pada waktu makan dan menunggu setidaknya satu jam setelah makan sebelum konsumsi.
Rangkuman
Minuman berkafein seperti kopi dan teh telah terbukti menghambat penyerapan zat besi.
Hal ini karena kandungan polifenolnya, bukan kafein itu sendiri.
Makanan dan minuman berkafein tidak terkait dengan kekurangan zat besi pada orang sehat, karena penyerapan zat besi dipengaruhi oleh banyak faktor makanan lainnya.
Namun, mereka yang berisiko kekurangan zat besi, akan lebih baik menghindari kopi dan teh pada waktu makan, dan menunggu satu jam setelah makan untuk minum kopi atau teh.
Referensi
1.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26614599
2.                http://www.ncausa.org/Industry-Resources/Market-Research/National-Coffee-Drinking-Trends-Report
3.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6402915
4.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10999016
5.                https://doi.org/10.1016/S0308-8146(03)00244-9
6.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9537620
7.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6402915
8.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28584397
9.                https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2598894
10.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10731500
11.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1989423
12.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3290310
13.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20200263
14.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14718031
15.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18275622
16.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17299492
17.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3306181/
18.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11029010
19.            https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12001007


EmoticonEmoticon