Dampak buruk gorengan bagi kesehatan anda

Digoreng, adalah metode memasak  paling umum yang digunakan di seluruh dunia. Ini sering digunakan oleh restoran dan gerai makanan cepat saji sebagai cara cepat dan murah untuk menyiapkan makanan.
Banyak makanan yang digoreng yang populer seperti kerupuk, pisang, tempe, tahu, ikan, kentang goreng, ayam dan pada dasarnya hampir semua makanan bisa digoreng termasuk nasi.
Banyak orang menyukai cita rasa gorengan. Namun makanan ini cenderung tinggi kalori dan mengandung lemak trans, sehingga mengkonsumsi gorengan memiliki efek negatif pada kesehatan Anda.
Artikel ini menjelaskan mengapa makanan yang cepat saji yang digoreng buruk bagi Anda dan memberikan beberapa alternatif yang lebih sehat untuk bisa dipertimbangkan.
Gorengan tinggi kalori

dampak buruk makanan digoreng bagi kesehatan


Dibandingkan metode memasak lainnya, menggoreng banyak menambah kalori.
Awalnya, makanan yang digoreng biasanya dilapisi adonan atau tepung sebelum digoreng. Selanjutnya, saat makanan digoreng dengan minyak, mereka kehilangan air dan menyerap lemak, yang selanjutnya meningkatkan kandungan kalori mereka (1).
Secara umum, makanan yang digoreng memiliki lemak dan kalori yang jauh lebih tinggi dari pada makanan yang tidak digoreng.
Misalnya, satu kentang panggang kecil (100 gram) mengandung 93 kalori dan 0 gram lemak, sementara jumlah yang sama (100 gram) kentang goreng mengandung 319 kalori dan 17 gram lemak (2, 3).
Sebagai contoh lain, ikan panggang berukuran 100 gram berisi 105 kalori dan 1 gram lemak, sementara jumlah ikan goreng yang sama mengandung 232 kalori dan 12 gram lemak (4, 5).
RINGKASAN
Makanan yang digoreng mengandung lebih banyak kalori dari pada makanan yang tidak digoreng. Mengkonsumsi gorengan secara signifikan dapat meningkatkan asupan kalori Anda.

Gorengan Tinggi Lemak Trans
Lemak trans terbentuk saat lemak tak jenuh mengalami proses yang disebut hidrogenasi.
Produsen makanan sering menghidrogenasi lemak dengan menggunakan tekanan tinggi dan gas hidrogen untuk mengawetkan makanan, namun hidrogenasi juga terjadi saat minyak dipanaskan sampai suhu yang sangat tinggi saat memasak.
Proses ini mengubah struktur kimia lemak, sehingga sulit bagi tubuh Anda untuk mencernanya, yang pada akhirnya dapat menyebabkan efek kesehatan yang negative bagi tubuh anda.
Penelitian menunjukkan, lemak trans menyebabkan peningkatan risiko banyak penyakit, termasuk penyakit jantung, kanker, diabetes dan obesitas (6, 7, 8).
Karena makanan yang digoreng, dimasak dengan minyak pada suhu sangat tinggi, lemak cenderung mengandung lemak trans.
Penelitian di AS mengenai minyak kedelai dan canola menemukan bahwa 0,6-4,2% kandungan asam lemaknya adalah lemak trans (9).
Bila minyak ini dipanaskan sampai suhu tinggi, seperti saat menggoreng, kandungan lemak trans bisa meningkat (10).
Penelitian menunjukkan bahwa setiap kali minyak digunakan untuk menggoreng, kandungan lemak transnya akan semakin meningkat. Sehingga, semakin sering di gunakan menggoreng, kandungan lemak trans di minyak tersebut semakain besar (11).
Namun, penting untuk membedakan antara lemak trans buatan dan lemak trans yang terjadi secara alami pada makanan seperti daging dan produk susu.
Lemak trans alami tidak memiliki dampak negatif bagi kesehatan.
RINGKASAN
Saat dipanaskan, minyak akan membentuk lemak trans, yang dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko beberapa penyakit seperti jantung, diabetes, obesitas dan kanker.

Gorengan meningkatkan risiko terserang penyakit
Beberapa penelitian pada orang dewasa telah menemukan hubungan antara mengonsumsi makanan yang digoreng dengan risiko terkena penyakit kronis.
Secara umum, mengonsumsi lebih banyak makanan yang digoreng berkaitan dengan risiko yang lebih besar terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung dan obesitas (12).
Penyakit jantung
Mengonsumsi makanan yang digoreng dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol "baik" dan obesitas, yang semuanya merupakan faktor risiko penyakit jantung (13, 14, 15, 16).
Dua penelitian observasional besar menemukan bahwa semakin sering orang mengkonsumsi makanan yang digoreng, semakin besar risiko terkena penyakit jantung (17).
Satu studi menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi satu atau lebih porsi ikan goreng per minggu memiliki risiko gagal jantung 48% lebih tinggi, dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi 1-3 porsi per bulan (18).
Di sisi lain, peningkatan asupan ikan bakar atau panggang yang tidak digoreng memiliki risiko yang lebih rendah.
Studi observasional lain menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi gorengan memiliki risiko terkena sakit jantung yang lebih tinggi (19).
Sementara itu, mereka yang makan makanan tinggi buah dan sayuran berada pada risiko yang jauh lebih rendah.
Diabetes
Beberapa penelitian menemukan bahwa mengonsumsi makanan gorengan membuat Anda berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 (20, 21).
Satu studi menemukan bahwa orang yang makan makanan cepat saji lebih dari dua kali per minggu, memiliki resiko dua kali lebih besar mengalami resistensi insulin, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsinya kurang dari sekali dalam seminggu (22).
Dua penelitian observasional besar menemukan hubungan yang kuat antara seberapa sering peserta makan gorengan dengan risiko diabetes tipe 2.
Mereka yang mengkonsumsi 4-6 porsi makanan yang digoreng per minggu, 39% lebih berpotensi untuk terkena diabetes tipe 2, dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi kurang dari satu porsi per minggu.
Demikian pula, mereka yang makan makanan gorengan tujuh kali atau lebih per minggu mengalami 55% lebih berpotensi terkena diabetes tipe 2, dibandingkan mereka yang mengkonsumsi kurang dari satu porsi per minggu. (23).
Kegemukan
Makanan yang digoreng mengandung lebih banyak kalori daripada makanan yang tidak digoreng, sehingga bila anda mengkonsumsi gorengan, dapat meningkatkan asupan kalori Anda secara signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa lemak trans dalam makanan gorengan dapat memainkan peran penting dalam penambahan berat badan seseorang, hal ini dikeranakan lemak trans akan mempengaruhi hormon lapar dan lemak di tubuh (24).
Sebuah studi yang dilakukan pada monyet menemukan bahwa meskipun tidak adanya kalori tambahan, konsumsi lemak trans secara signifikan meningkatkan lemak perut (25).
Dengan demikian, masalahnya mungkin adalah jenis lemak, bukan jumlah lemaknya.
Sebuah penelitian observasional yang meninjau ulang diet dari 41.518 wanita selama delapan tahun menemukan bahwa peningkatan asupan lemak trans sebesar 1% menghasilkan kenaikan berat badan sebesar 0,54 kg pada wanita dengan berat badan normal.
Sedangkan di antara wanita yang kelebihan berat badan, peningkatan asupan lemak trans 1% menghasilkan kenaikan berat badan 1,04 kg selama penelitian ini (26).
Terlepas dari apakah karena gorengan mengandung kalori tinggi atau lemak trans, beberapa penelitian observasional telah menunjukkan hubungan antara makan gorengan dan obesitas (16, 27).
RINGKASAN
Individu yang rutin mengkonsumsi makanan yang digoreng berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung dan obesitas. Semakin tinggi asupan Anda, semakin besar risikonya.

Gorengan Mengandung Acrylamide
Akrilamida adalah zat beracun yang bisa terbentuk pada makanan selama memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng, memanggang atau membakar.
Ini terbentuk oleh reaksi kimia antara gula dan asam amino yang disebut asparagin.
Makanan berlemak seperti produk kentang goreng dan makanan panggang biasanya memiliki konsentrasi akrilamida yang lebih tinggi (28).
Penelitian pada hewan telah menemukan bahwa hal itu menimbulkan risiko beberapa jenis kanker (28, 29).
Namun, sebagian besar penelitian ini menggunakan dosis acrylamide yang sangat tinggi, berkisar antara 1.000-100.000 kali jumlah rata-rata yang biasa dikonsumsi manusia melalui diet (30).
Sebuah penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara akrilamida dengan penyakit ginjal, kanker endometrium dan ovarium (31).
Studi lain menunjukkan bahwa diet akrilamida pada manusia tidak terkait dengan risiko jenis kanker (32, 33).
RINGKASAN
Studi pada hewan menunjukkan bahwa asupan diet akrilamida dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker, namun penelitian lebih lanjut pada manusia diperlukan untuk memastikannya.

Minyak Goreng Sehat dan Metode Memasak Alternatif

Jika Anda menyukai rasa makanan yang digoreng, pertimbangkan memasak di rumah dengan menggunakan minyak yang lebih sehat atau metode "penggorengan" alternatif.

Minyak sehat

Jenis minyak yang digunakan untuk menggoreng sangat mempengaruhi risiko kesehatan yang terkait dengan makanan yang digoreng. Beberapa minyak dapat menahan suhu yang jauh lebih tinggi daripada yang lain, sehinggamembuatnya lebih sehat untuk digunakan.
Minyak kelapa, minyak zaitun dan minyak alpukat termasuk yang paling sehat.
 Minyak kelapa: Lebih dari 90% asam lemak dalam minyak kelapa jenuh, yang membuatnya sangat tahan terhadap panas. Sebenarnya, penelitian telah menunjukkan bahwa bahkan setelah delapan jam menggoreng terus menerus, kualitasnya tidak memburuk (34).
 Minyak zaitun: Minyak zaitun mengandung lemak tak jenuh tunggal, sehingga relatif stabil untuk memasak dengan suhu tinggi. Satu analisis menemukan bahwa minyak zaitun dapat digunakan dalam penggorengan sampai 24 jam sebelum sejumlah besar oksidasi mulai terjadi (35).
Minyak alpukat: Komposisi minyak alpukat mirip dengan minyak zaitun. Ini juga memiliki toleransi panas yang sangat tinggi, menjadikannya pilihan tepat untuk menggoreng lama.

 Jenis minyak tersebut lebih baik bagi kesehatan anda saat digunakan untuk memasak dan menggoreng makanan dibandingkan dengan jenis minyak lainya.

Minyak tidak sehat

Minyak goreng yang mengandung sejumlah besar lemak tak jenuh ganda jauh kurang stabil dan diketahui membentuk akrilamida bila terkena panas tinggi (36).
Ini termasuk, namun tidak terbatas pada:

  • Minyak canola
  • Minyak kedelai
  • Minyak biji kapas
  • Minyak jagung
  • Minyak wijen
  • Minyak bunga matahari
  • Minyak safflower
  • Minyak biji anggur
  • Minyak dedak padi
Minyak ini diproses, dan sampai 4% kandungan asam lemaknya adalah lemak trans sebelum menggoreng (37).
Sayangnya, mereka biasanya digunakan oleh restoran, karena cenderung lebih murah. Anda tidak hanya harus menghindari minyak ini untuk menggoreng lama, Anda harus berusaha menghindarinya sama sekali.

Alternatif menggoreng

Anda mungkin juga ingin mempertimbangkan beberapa metode memasak alternatif, termasuk:

  • Oven-frying: Metode ini melibatkan pembakaran makanan pada suhu yang sangat tinggi (450 ° F atau 232 ° C), yang memungkinkan makanan menjadi renyah dengan menggunakan sedikit atau tanpa minyak.
  • Dikukus: mengukus akan menjadikan makanan dapat masak tanpa menggunakan minyak. Ini akan jaug lebih sehat bagi anda.
  • Dibakar: dengan dibakar anda dapat menghindari asupan lemak trans. Yang terpenting adalah anda membersikan bagian hitam (hangus terbakar) sebelum anda mengkonsumsinya.
RINGKASAN
Minyak kelapa, minyak zaitun dan minyak alpukat termasuk minyak sehat untuk menggoreng makanan. Anda juga bisa mencoba makanan yang di oven yang menghasilkan hasil yang sama dengan menggunakan sedikit minyak.

Catatan Penting

Mengkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak yang tidak sehat dapat memiliki menimbulkan efek negatif bagi kesehatan.
Mengkonsumsi gorengan secara teratur dapat membuat Anda berisiko tinggi terkena penyakit seperti diabetes, penyakit jantung dan obesitas.
Oleh karena itu, mungkin sebaiknya hindari atau sangat batasi asupan makanan gorengan.
Gunakan metode memasak lainnya dan gunakan jenis minyak sehat sebagai gantinya.


Jangan Lupa Share ya...

Jurnal Literatur
1       https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17243087/
3       http://nutritiondata.self.com/facts/fast-foods-generic/5960/2
5       http://nutritiondata.self.com/facts/fast-foods-generic/5871/2
7       http://ajcn.nutrition.org/content/66/4/1006S.short
8       http://jn.nutrition.org/content/135/3/562.short
9       http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1745-4522.1994.tb00244.x/abstract
10    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4609978/
11    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9713586/
12    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4632424/
13    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14668269/
14    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25201306/
15    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18823526/
16    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17616781/
17    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24944061/
18    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21610249/
19    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18936332/
20    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20016014/
21    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22753304/
22    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15639678/
23    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4095664/
24    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20644558
25    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17636085
26    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17426332?dopt=Abstract&holding=npg
27    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20049299/
29    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14705871
30    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18624443/
31    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25403648
32    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22495255
33    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4164905/
34    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25694709
36    https://link.springer.com/article/10.1007%2FBF02873539
37    http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1745-4522.1994.tb00244.x/abstract


EmoticonEmoticon