CARA MENEGUR ANAK YANG BENAR SAAT MELAKUKAN KESALAHAN


Hargai Pribadinya Tegur Perilakunya


“Harus dibedakan, antara pribadi anak dengan perilakunya. Kalau perilaku bisa saja salah, tetapi pribadi anak tetap senantiasa baik.”

Contoh kasus:
Ayah melipat koran yang sedang dibacanya ketika Ridwan datang dengan ragu dan kepala setengah tertunduk.
Dengan lesu tangannya menyodorkan selembar kertas kepada ayah sembari bergumam,
"Minta tanda tangan, Yah." 

Sedikit mengangkat alis, ayah menerima kertas itu dan membacanya. Dalam lembaran tersebut tertulis dua puluh kalimat yang ditulis tangan oleh Ridwan,
'Saya berjanji tidak akan mencuri uang lagi.'

Sedetik kemudian wajah ayah telah berubah menjadi merah dan sinar matanya menyala garang.
"Ah, anak bandel. Apa lagi yang kau perbuat hari ini? Belum puas-puasnya kau membuat malu ayahmu?" 

Yang ditanya hanya diam tertunduk. Ayah meletakkan koran dengan kasar di meja dan merenggut badan Ridwan dengan kasar agar mendekat.
"Dasar anak tak tahu aturan! Pencuri! Masih kecil sudah pandai mencuri, jadi apa kau kalau besar nanti? Mau jadi perampok? Memalukan!"

Ya, orang tua mana yang tak malu jika anaknya yang baru duduk di kelas lima SD sudah ketahuan dua kali mencuri uang milik temannya?
Itu pula yang menyebabkan ayah Ridwan menjadi naik pitam dan begitu berang mengetahui kebengalan anaknya.

Sepintas, reaksi ayah terasa wajar. la dikuasai emosi, karena begitu kecewa dan marah mengetahui perbuatan buruk Ridwan. Akan tetapi, ditinjau dari sisi pendidikan, reaksi ayah ini keliru. Bisa berakibat buruk terhadap anak.
Selain tak akan mampu mencegah anak untuk berbuat kesalahan di kali yang lain, juga tak akan menumbuhkan motivasi anak untuk menjadi anak yang baik. Tahukah Anda dimana letak kekeliruan ayah?  




Lain Perilaku, Lain Pribadi

Ya benar, kata-kata yang dilontarkan ayah terlalu kejam dan tak berperikemanusiaan. Walaupun belum tentu kita sendiri bisa menghindari kata-kata seperti ini bila dihadapkan dalam kondisi emosi serupa. 

Kesalahan utama yang akan kita kupas dalam bahasan kali ini adalah reaksi ayah yang menyerang dan mencerca keburukan pribadi anaknya.
Dengan fasihnya ayah menyebut Ridwan sebagai 'anak bandel', juga 'anak tak tahu aturan', kemudian 'pencuri' dan perampok'.
Kalimat-kalimat ini menyiratkan bahwa kesalahan-kesalahan itu terjadi akibat keburukan subyek. Orang memang sering lupa, melakukan kesalahan seperti yang dilakukan ayah Ridwan ini. Mereka tidak membedakan antara pribadi si anak dengan perilaku yang ia kerjakan. Bagaimana seharusnya? 

'Pencuri' tentu lain dengan 'mencuri'.

Mereka yang disebut sebagai pencuri adalah mereka yang memang jahat dan mempunyai pekerjaan sebagai pencuri. Tetapi ingat bahwa pencurian tidak hanya bisa dilakukan oleh seorang 'pencuri', tetapi bisa dilakukan oleh seorang anak baik-baik, ketika mungkin satu kali ia sedang khilaf.

Anak ini tidak mencuri terus-menerus yang kemudian pantas disebut pencuri.  Keadaan akan lebih baik jika dalam kasus Ridwan tersebut ayah bereaksi,
"Wah, kenapa kau lakukan itu? Begitu kau perlukankah uang tersebut?"

Merasa cukup dihargai karena tak langsung dijatuhkan pribadinya, Ridwan akan berterus terang,
"Tidak terlalu perlu sebetulnya. Aku hanya jengkel pada Rendy."

Mungkin, alasan yang dikatakan Ridwan hanya dibuat-buat untuk membela diri. Ini wajar dilakukan setiap anak. Akan lebih baik jika orang tua bersikap bijaksana dengan memberikan empati.
"Oh, kau merasa sudah disakiti? Wajar jika ingin balas dendam."

Secara fitrah, anak yang dihargai dan diberi kepercayaan seperti ini selanjutnya akan lebih terbuka mengungkapkan isi hatinya.
"Ya, Teddy suka mengadu ke Bu guru. Dikatakannya saya ini nakal, suka mengganggu dan mencuri."

Ayah kemudian bisa memberi komentar,
"Tetapi Nak, jika kejengkelanmu itu kau lampiaskan dengan cara mencuri, sama sekali tak akan memperbaiki keadaan. jika ketahuan justru kau yang rugi dan malu.
Walau tak ketahuan pun hanya akan membuatmu terbiasa mencuri hingga besar nanti. Paling-paling kau hanya bisa membuat temanmu jengkel sebentar saja.
Ini sama sekali bukan jalan keluar yang baik. Tidak ksatria. Seorang anak yang gagah dan jujur tak semestinya melakukan perbuatan tercela seperti itu." 

Nah, dalam kalimat terakhir nasehatnya ayah justru menyebutkan tentang pribadi yang gagah dan jujur. Betapapun besar kesalahan perilaku itu, jangan sampai mengubah konsep penghargaan orang tua terhadap pribadi anak.
Pribadi ini harus dihargai dan dijunjung, untuk selanjutnya diingatkan bahwa pribadi yang seperti ini tak pantas melakukan perbuatan-perbuatan buruk.


Mencerca Pribadi Hancurkan Harga Diri

Dalam masa pertumbuhan dan perkembanganya yang dimulai sejak dilahirkan, setiap anak belajar menilai dan meniru segala sesuatu. Anak juga belajar menilai dirinya sendiri. Salah satu cara anak untuk menilai dirinya adalah dengan memperhatikan dan meniru apa yang dilakukan orang tua mereka.

Anak akan mengatakan sesuatu itu baik jika ia terus mendapat informasi bahwa sesuatu itu baik. Demikian pula anak akan meyakini sesutau dikatakan biru, jika ia mendapat informasi terus menerus bahwa sesuatu itu biru.

Dan yang paling penting, anak akan menilai dirinya sendiri sebagaimana orang tua memandang dirinya. Ini adalah hal yang sangat penting bagi perkembangan anak dimasa depan.

Apabila pribadinya sering dicerca dengan julukan-julukan buruk seperti anak nakal, bengal, tak tahu aturan, pencuri, bodoh, pemalas, dan sejenisnya, maka akan terbentuk keyakinan dalam diri anak bahwa memang seperti itulah sebenarnya taraf kepribadiannya.
Selanjutnya ia akan merasa wajar jika berbuat nakal, toh ayah ibu menyebutnya 'anak nakal'.

Perkembangan buruk seperti ini bila diteruskan akan sampai pada tahap di mana anak akan selalu berusaha berperilaku sesuai dengan anggapan terhadap kepribadiannya tersebut, sehingga ia akan merasa tak pantas jika berbuat baik, yang notabene menyalahi dari keyakinannya sebagai anak nakal dan bengal tersebut.

Sampai tahap ini perilaku anak bisa jadi sangat membuat orang dewasa terheran-heran, di mana ia sudah tak mempan lagi dengan nasehat dan motivasi untuk mau berbuat baik, kecuali jika perbaikan dimulai dengan mengubah cara pandangnya yang keliru dalam menghargai pribadinya sendiri.

Sungguh ini sebuah perbaikan yang sulit untuk dilakukan. Begitulah kenyataannya, bahwa setiap orang membentuk kepribadian sesuai dengan cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Itu sebabnya, akan sangat fatal akibatnya jika dalam masa perkembangan anak diberi contoh untuk menilai dirinya dengan sebutan dan panggilan yang buruk.  

Membangun Penilaian Diri

Ilustrasi Kasus:
Marilah kita mencoba memahami perasaan Bagus, yang baru duduk di bangku TK A, ketika satu ketika ia mengompol di sekolah. Dalam diri anak tersebut akan timbul kebingungan, seperti apa ia akan menilai dirinya sendiri. la merasa malu karena tak bisa menahan pipisnya, satu hal yang tak dilakukan teman-temannya. Dia akan berpikir,
"Anak bodohkah saya? Apakah saya masih seperti bayi? Belum pandai dan belum pantas sekolah? Apa yang salah dengan saya?" 

Bagus sedang mencari-cari, mana penilaian yang paling tepat untuk ia berikan terhadap dirinya sendiri. Jika dalam situasi seperti ini orang dewasa memberi masukan,
"Dasar pengompol", atau "Anak bayi",
maka Bagus pun akan berkesimpulan bahwa memang seperti itulah pribadinya.  Sudah pasti, mereka yang bijaksana akan memberikan komentar,
"Mas Bagus kenapa? Mas bagus kan sudah TK, lain kali bila ingin pipis minta tolong untuk diantar ibu guru ke kamar mandi, ya?"
“ Anak Pinter.”

Reaksi orang tua menghadapi kesalahan yang diperbuat anak seperti ini, ternyata memang tak mudah untuk dilakukan, terutama bagi mereka yang belum terbiasa. Yang belum biasa menilai secara terpisah antara pribadi dengan perilaku anak. Jadi perlu dibiasakan. 
Yang perlu diingat, harus diupayakan agar setiap anak berhasil mencintai dirinya sendiri. Untuk bisa mencintai dirinya sendiri, ia perlu membangun penilaian diri seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat. Maka, orang tua perlu banyak-banyak memuji pribadi anak, dan memberinya kepercayaan sebesar mungkin terhadap kebagusan pribadi mereka.

Kalimat yang Menyerang Pribadi

“ Dasar anak nakal. Selalu kau rebut mainan adikmu”
“ Kau ini pemalas, mengerjakan PR dari tadi belum selesai juga”
“Itu gara-gara kamu sok tahu. Semestinya bertanya dulu......”
VS

Kalimat Menyerang Perilaku

 “ Sayang, kalau kamu merebut mainan adik, dia bisa marah seharian. Bilang baik-baik pada adik ya lain kali.”
“ Belum juga selesai mengerjakan PR? Kenapa sulit ya? Ayo dipercepat kalau tidak sulit.”
“ Anak pemberani seperti kamu, mestinya tak perlu malu bertanya. Lain kali, kalau belum paham bertanya dulu ya.”

‘Teguran Satu Menit’


“Cara marah kepada anak yang tepat dan aman, menunjukkan teguran dan kasih sayang sekaligus.”

Tuntutan hidup di kota-kota besar menjadikan orang tua sibuk mengurusi pekerjaan. Setiap hari setumpuk pekerjaan menunggu untuk diselesaikan. Belum lagi ditambah kemacetan jalan, memaksa sebagian besar orang tua berangkat kerja pagi sebelum matahari terbit dan pulang pada saat matahari sudah lama tenggelam.
Tragisnya lagi, kesibukan itu tidak hanya dimonopoli kaum bapak, tapi juga kaum ibu.  Pada keluarga sibuk seperti ini, urusan rumah tangga bisa meniadi nomor dua atau bahkan nomor kesekian, setelah urusan bisnis dan urusan-urusan lainnya.

Padahal jika mereka ditanya, untuk apa mereka banting tulang bekerja? Mereka menjawab, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama anak-anaknya. Lalu mengapa mereka meninggalkannya? Sekadar bertemu wajah saja sudah jarang terjadi, apalagi komunikasi intensif dengan mereka. 

Masalah anak sering kali muncul di tengah keluarga sibuk seperti itu. Orang tua terpaksa berkomunikasi dengan anaknya justru ketika mereka sedang bermasalah. Dalam keadaan seperti ini orang tua akan menghadapi kendala besar untuk menyelesaikannya.
Ketegasan orang tua bahkan bisa memperuncing masalah, bahkan menjadi masalah baru bagi anak-anaknya. 

Tulisan ini disajikan untuk membantu orang tua yang sibuk agar komunikasinya yang singkat dengan anak-anaknya menjadi efektif dan mempunyai kedalaman arti bagi hubungan mereka, terutama dalam memecahkan masalah.
Asal tahu caranya, pertemuan singkat menjadi sangat bermakna. Para pakar menyebutnya "teguran satu menit" karena dalam pelaksanaannya hanya memakan waktu tak lebih dari satu menit.
Serangkaian survei membuktikan metode ini sangat efektif dan hasilnya selalu luar biasa.  

Pelaku dan Perilaku

Untuk memahami metode pendidikan disiplin ini, orang tua hendaknya terlebih dahulu harus bisa membedakan antara. "pelaku" dan "perilaku".
"Pelaku" adalah individu/anak yang sedang melakukan sesuatu,
sedangkan "perilaku" menggambarkan kegiatan yang sedang dilakukannya.
Misalnya, Iwan memukul kucing, lwan sebagai "pelaku" dan "perilaku"nya adalah memukul kucing.

Nampaknya semua orang pasti bisa melakukannya, tapi dalam prakteknya nanti justru hal ini menjadi kuncinya. Jika langkah awal ini salah, maka teguran satu menit tidak akan pernah efektif.

Kunci kedua adalah orang tua memahami bahwa antara pelaku dan perilaku tidak selalu mempunyai konotasi yang sama.
Pemukulan kucing merupakan tindakan yang buruk, tapi bukan berarti berkonotasi secara langsung bahwa lwan adalah anak yang buruk.

Orang tua tidak boleh memberikan konotasi buruk kepada "pelaku".  Seburuk apapun “perilaku" mereka, orang tua hanya boleh berprasangka bahwa saat itu anak sedang khilaf, teledor atau lupa sehingga melakukan "perilaku" buruk, tetapi pada hakikatnya anak-anak itu tetaplah baik, tetap anak yang sholeh yang kelak akan kembali menunjukkan "perilaku" yang baik.  

Anak tetap anak, sekalipun perilakunya buruk. Yang buruk adalah perilakunya, sementara pelakunya, yakni si anak sendiri adalah anak-anak baik. Jika patut dibenci, maka perilakunya yang harus dikutuk, bukan pelakunya. Sang anak sebagai pelaku tetap berhak untuk dicintai, disayangi, dan dihargai.  

Citra Diri Positif

Langkah berikutnya adalah menularkan kepada anak tentang pemahaman citra ‘pelaku’ yang senantiasa positif tadi. Anak-anak harus meyakini bahwa diri mereka itu adalah anak yang baik-baik.
Keyakinan itu harus terpatri kuat dalam jiwanya, hingga menjadi dorongan yang cukup kuat untuk mempertahankan citra diri positif tersebut. 

Ketika marah, orang tua jangan sampai menjatuhkan kata-kata keji yang menjatuhkan citra diri positifnya. Ketika anak kedapatan mengambil uang di lemari tanpa izin, jangan sampai didamprat dengan kata-kata “maling”.
Ketika mereka tidak mengerjakan PR dari sekolahnya, jangan sebut-sebut "pemalas", bebal, dan bodoh. Kata-kata itu merupakan citra diri yang negatif, yang jika sering-sering didengar anak, akhirnya diyakini kebenarannya.
Diam-diam dalam hatinya mereka membenarkan bahwa dirinya itu “maling, pemalas, dan bodoh.” 

Pada awalnya mereka malu dengan sebutan tersebut, tapi pada tahapan tertentu mereka bahkan menjadi bangga. Bangga, disebut "maling", "bengal", dan "bodoh".
Untuk itu mereka berusaha membenarkan prasangka orang tua dan orang-orang di sekitarnya dengan perilaku negatif. Tingkah buruk mereka semakin menjadi-jadi manakala ada orang yang mengomentarinya dengan julukan yang sudah ia terima sebagai harga dirinya itu.

Dalam kasus yang berat, anak tersebut justru tidak senang atau bahkan marah bila ada orang memujinya sebagai anak yang baik, penurut atau shaleh.  Itulah sebabnya sangat penting bagi orang tua untuk tidak mempunyai prasangka buruk kepada anak mereka, sebab mereka bisa membaca prasangka itu dari kata-kata yang terucap, mimik dan guratan wajah.
Bahkan mereka bisa membaca lintasan hati orang tuanya.

Setengah Menit Pertama: Tegur Perilakunya

Ketika seorang anak berbuat kesalahan, orang tua harus menegur “perilaku" tersebut, tanpa mencela "pelaku" nya.
Anak harus mengerti letak kesalahannya. Ia harus mengerti betul bahwa orang tuanya marah, kecewa, dan membenci perilaku yang baru saja dilakukannya, bukan marah dan membenci dirinya

Agar anak tahu bahwa orang tuanya tidak menyukai perilakunya, maka sebaiknya orang tua menunjukkan perasaan kecewa, marah, dan ketidak sukaannya dengan sejelas-jelasnya, bisa dengan mimik wajah yang penuh emosi, bisa pula dengan kata-kata yang keras. 
"Ibu sangat kecewa kamu membolos dari TPA hanya karena diajak teman main play station!".
"Hal seperti itu harus kamu hentikan!"
kata ibu dengan wajah kecewa dan marah. 

Atau seperti seorang ayah yang berdiri berkacak pinggang dengan raut muka kesal menyambut anak gadisnya yang pulang terlambat lewat pintu belakang.
"Ayah sangat tidak senang engkau pulang terlambat, apalagi diantar teman pria seperti itu. Ayah sangat kecewa!"

JANGAN DIULANG DAN DIAMKAN BEBERAPA DETIK

Kedua adegan tersebut sudah dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dirasakan oleh ayah dan ibu. Tujuannya agar anak mengerti perasaan orang tua tentang perilaku anak yang buruk itu.
Di sisi lain diharapkan dalam diri anak sendiri akan timbul perasaan yang tidak enak menghadapi kemarahan orang tuanya. 
Kita bisa melihat bahwa yang dibutuhkan orang tua untuk menunjukkan perasaannya tak lebih dari teguran satu menit. Cukup dinyatakan sekali saja, anak sudah bisa memahami perasaan orang tua, bila pernyataan ini diulang-ulang justru akan menimbulkan kebosanan, dan anak merasa di gurui. Cara mendisiplinkan anak seperti itu tidak efesien.
Banyak orang tua yang merasa perlu memberi nasehat panjang lebar terhadap kesalahan anaknya karena menangkap kesan anak tidak mendengar nasehat dikatakan orang tua.
Anak-anak itu berbuat seenaknya, tak mendengar omelan orang tua. Tingkah anak seperti itu lalu membuat orang tua jengkel dan merangsangnya untuk semakin memperpanjang dan mengulang-ulang nasehat semata untuk melampiaskan kejengkelannya. 

Sekali lagi, sikap orang tua sebenarnya cukup dinyatakan sekali, ditunjang ekspresi wajah dalam waktu tak lebih dari satu menit, inilah bagian awal dari metode disiplin yang disebut "teguran satu menit" itu selanjutnya, akan tercipta suasana yang tidak menyenangkan bagi anak.

Selanjutnya orang tua diam sejenak agar suasana yang tidak enak ini benar-benar dirasakan anak, manfaatkan waktu ini untuk menarik nafas panjang, seakan telah usai menyelesaikan tugas berat berupa pengungkapan rasa kecewa atas perilaku anak yang buruk.  

Setengah Menit Kedua: Hargai Pelakunya

Bagian berikutnya adalah saatnya menggunakan kebenaran lain selain kebenaran pertama yang telah dikatakan terlebih dahulu.
Kebenaran yang kedua ini adalah bahwa diri anak-anak sebagai "pelaku" sebenarnya tetap baik, bahwa orang tua tetap mencintai sepenuh hati, karena mereka pada dasarnya adalah anak-anak yang shaleh. 

Bagian kedua ini harus di ucapkan orangtua dengan ekpresi wajah penuh kasih sayang dan kelembutan. Bila perlu dengan memeluk dan mencium, agar anak bisa langsung merasakan bahwa bagaimanapun buruknya perilaku mereka, ternyata orang tua tetap mencintainya.

Pernyataan ini pun tidak perlu di ulang, cukup sekali saja. Satu menit dalam upaya pendisiplinan ini bisa lebih efektif ketimbang berjam-jam.

Walau demikian, orang tua perlu mengetahui bahwa metode ini tidak semudah teorinya. Menampakkan dua perasaan yang saling bertentangan sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan bukanlah pekerjaan mudah.
Orang tua seakan dipaksa untuk bermain sandiwara, padahal ia harus memerankannya dengan sungguh-sungguh, tulus, dan tanpa pamrih.

Menjaga Harga Diri

Metode "teguran satu menit" mempunyai banyak kelebihan.
Pertama, melatih disiplin anak-anak untuk bisa meninggalkan perilaku yang buruk. Bagai mana penjelasannya?

Dalam setengah menit yang pertama, anak mengerti bahwa tindakannya yang buruk telah membuat orang tuanya kecewa dan marah.
Peristiwa itu akan masuk ke alam memorinya, selanjutnya memorinya mencatat mana perilaku baik yang disenangi orang tua dan mana perilaku buruk yang membuat kecewa dan marah orang tuanya. 

Selanjutnya, dalam setengah menit kedua, anak segera dapat menemukan kembali citra dirinya yang positif sebagai anak yang baik. Mereka sangat menikmati belai kasih orang tua dalam selang waktu yang singkat ini.
Buahnya, mereka menjadi senang dan bangga terhadap dirinya sendiri yang baik seperti kata orang tuanya. Satu hal penting yang tak boleh dilupakan orang tua adalah bahwa semakin anak menyenangi dirinya sendiri, semakin besar kemauannya untuk berperilaku lebih baik. 

Keuntungan kedua, metode ini bisa digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Banyak orangtua mengeluh karena tak bisa memahami jalan pikiran anaknya.

Banyak orang tua yang tak mengenal anaknya sendiri karena kemacetan komunikasi. Anak tak pernah mau menyampaikan masalah yang ia hadapi kepada orangtua.
Dengan bantuan metode ini, sedikit demi sedikit mulai berkembang iklim keterbukaan antara orang tua dengan anak, komunikasipun menjadi lancar, akrab, dan harmonis.

Mengapa ini bisa terjadi?

Tak lain karena keberanian orang tua menunjukkan perasaan terhadap anak tanpa mencerca. Dalam setengah menit pertama menyalahkan habis-habisan perilaku anak yang buruk.
Tetapi dalam menit kedua membuktikan bahwa diri pribadi anak selalu tetap baik dan dicintai orang tua. 

Anak akan meniru apa yang diperbuat oleh ayah ibunya. Mereka semakin berani menunjukkan perasaan mereka terhadap segala sesuatu, baik perasan baik maupun buruk. Karena sudah mendapat jaminan bahwa tak akan dicerca oleh orang tua. Maka komunikasi akan menjadi terbuka dan akrab.
Tak ada lagi beban untuk berbicara tentang segala sesuatu tentang ayah ibu.  Akhirnya metode "teguran satu menit" ini akan benar-benar bisa efektif bila memang benar-benar dilaksanakan dalam satu menit saja. Bila telah selesai orang tua mengungkapkan perasaannya diharapkan tak akan lagi menyinggung-nyinggungnya kembali pada kesempatan lain.

Tidak ada pengulangan setelahnya. Perasaan marah dan kecewa sudah cukup diungkapkan dalam setengah menit pertama. Untuk selanjutnya di buang jauh-jauh.
Tak boleh ada lagi perasaan marah yang tersisa. Yakinlah bahwa anak sudah sangat bisa mengerti hanya dalam sekali mendengar. Menetralkan perasaan orang tua terpaksa harus menarik nafas panjang-panjang atau duduk meneduhkan hati yang panas. 

Silahkan menjadi "orang tua satu menit" dan nikmati hasilnya.

Jangan Lupa Share Artikel Luar Biasa Ini. Ajak keluarga, sahabat, teman kerja mengujungi aDVicena.com
Dan Viralkan Kebaikan.

LANJUT BACA KE BAGIAN 2.


Latest

1 komentar:

Memang jaman sekarang banyak anak yang kurang sopan kepada orang tuanya. Butuh pembinaan yang ketat.


EmoticonEmoticon